Malam Sharing Pertama

Keindahan Kopel

Kegiatan Hari Kedua

Hari Pertama di Desa

Pages

Narasi Si Addin

2/10/10




Sabtu, 16 Januari 2010

Hari Sabtu ini adalah hari Sabtu yang berbeda untuk siswa kelas X SMA N 3 Semarang. Hari ini adalah pemberangkatan kegiatan “Live In” siswa kelas X dan siswa kelas XI susulan SMA N 3 Semarang. Kegiatan ini adalah kegiatan rutin tahunan yang diadakan pihak sekolah untuk siswa kelas X dan kelas XI susulan.

Sekitar pukul 06.00 semua sebagian besar siswa yang akan mengikuti kegiatan Live In telah berkumpuk di halaman upacara SMA N 3 Semarang. Setelah diadakan upacara pemberangkatan, Sekitar pukul 06.30 seluruh peserta dan guru pengawas telah siap di dalam bus masing-masing dan bus siap meluncur ke lokasi.

Lokasi Live In tahun ini adalah beberapa desa di Kecamatan Patean Kabupaten Kendal. Kelas X Olimpiade mendapat bagian di Desa Sukomangli bersama siswa kelas X-7 dan XI susulan.
Untuk menuju lokasi Live In membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan. Medan yang dilalui untuk sampai lokasi sangat berkelok-kelok karena Kecamatan Patean memang terletak di atas gunung. Bus yang kami tumpangi memang tidak terlalu besar. Namun cukup nyaman untuk menampung 31 siswa (1 siswa berangkat menyusul).

Sekitar pukul 09.30 bus telah sampai di Kantor Kecamatan Patean. Seluruh rombongan singgah sejenak untuk melaksanakan upacara penyambutan dan pembukaan Live In oleh Camat Patean. Setelah upacara selesai, rombongan kembali ke bus masing-masing untuk selanjutnya menuju desa Live In.

Desa Sukomangli terletak cukup jauh dari Kantor Kecamatan Patean jika dibandingkan desa-desa Live In lainnya. Dan rupanya di Desa Sukomangli ini ada sebuah perkebunan karet dan pabrik pengolahan karet mentah. Setelah sampai di Balai Desa Sukomangli, peserta Live In dipertemukan dengan orangtua asuh masing-masing. Orangtua asuh saya adalah pasangan Bapak dan Ibu Sugi. Dan teman serumah saya adalah Kiki (X-7), Lilis (X-7), dan Vivie (XI susulan).

Rumah keluarga Sugi tidak terlalu jauh dari Balai Desa Sukomangli. Rumah keluarga Sugi juga rapi dan bersih. Setelah berkenalan dan berbincang dengan Keluarga Sugi, kami menuju kamar yang telah dipersiapkan untuk kami. Kami menunggu kepulangan Bapak Sugi dari sawah sembari beristirahat sejenak dan shalat. Setelah itu tak lupa kami membantu Ibu Sugi menyiapkan makan malam.

Bapak Sugi sampai dirumah sekitar pukul 14.00. Bapak Sugi mengajak kami berempat menuju kebun milik beliau. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Bapak Sugi. Ternyata Bapak Sugi mempunyai kebun yang cukup luas dan ditanami dengan berbagai jenis tanaman. Ada durian, coklat, kopi dan pala. Bapak Sugi menjelaskan tentang tanaman-tanaman yang ditanam di kebunnya. Kami juga dibawakan buah coklat yang belum terlalu matang dan baru saja dipetik dari kebunnya.

Setelah merasa puas melihat-lihat kebun Bapak Sugi, kami pun pulang. Kami pulang tidak melewati jalan yang kami lewati saat berangkat tadi. Kami pulang lewat perkebunan karet dan lapangan desa Patean. Ternyata di ujung perkebunan karet ada sebuah tempat bernama “KOPEL”. Di tempat ini dapat terlihat pemandangan dibawah Desa Sukomangli. Pemandangan dari Kopel terlihat sangat jelas dan indah. Saya dan teman-teman rumah saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kami mengambil beberapa foto pemandangan dari Kopel. Setelah cukup lama berada di Kopel , kami pulang karena gerimis. Kami melewati lapangan Desa Patean. Ternyata disana sudah ada beberapa teman sekelas saya yang sedang berkeliling desa.

Setelah sampai di rumah Bapak Sugi, coklat yang tadi kami petik langsung dari kebun Bapak Sugi dibuka. Ternyata bagian buah coklat yang dapat dimakan mentah bukanlah bagian buah yang bisa diolah menjadi coklat olahan. Dan dari satu buah coklat hanya didapat beberapa biji coklat saja yang dikirim ke pabrik.

Setelah puas memakan buah coklat, kami mandi dan bersiap untuk makan malam. Pukul 18.30 setelah makan malam, saya dan teman Live In House saya pergi menuju tempat sharing masing-masing. Kelas saya sharing di Balai Desa Sukomangli. Teman sekelas saya yang berangkat menyusul juga telah dating. Kami semua menceritakan kegiatan yang telah kami lakukan sehari ini. Beberapa anak sudah mulai berkegiatan dengan orangtua asuh masing-masing, namun sebagian lainnya belum. Kami juga menceritakan tentang rencana kegiatan esok hari. Sharing selesai sekitar pukul 21.00. dan kami pun pulang ke Live In House masing-masing.

Minggu, 17 Januari 2010
Hari ini saya bangun sekitar pukul 04.30 pagi. Pagi ini saya diajak melihat matahari terbit dari atas Kopel bersama teman-teman sekelas saya. Kami berkumpul di Kopel sekitar pukul 05.30, padahal seharusnya kami sudah berada di Kopel pukul 05.00. Walaupun terlambat dari rencana sebelumnya, kami tetap berangkat ke Kopel walaupun ada yang belum dating. Sesampai di Kopel ternyata matahari sudah terbit. Walaupun terlambat, kami tetap tidak menyesal karena pemandangan di bawah saat pagi hari ternyata sangat indah. Setelah beberapa lama berada di Kopel, kami pulang menuju Live In House masing-masing.

Kemarin sore kami telah merencanakan untuk pergi menanam padi di sawah Bapak Sugi siang ini. Namun karena salah seorang warga RT 01 ada yang meninggal dunia, rencana untuk berangkat ke sawah pagi pun tertunda. Dan kami memutuskan untuk membantu pekerjaan rumah Ibu Sugi. Kami membantu memasak untuk makan siang. Walaupun hasil masakan kami tidak sesuai yang kami harapkan, namun kami telah mendapat ilmu tentang bagaimana memasak “Gendar”.

Tidak banyak yang kami lakukan ketika menunggu Bapak dan Ibu Sugi pulang. Setelah memasak, kami hanya mengobrol dengan orangtua Bapak Sugi. Dan tidak lama setelah itu, anak kedua Bapak Ibu Sugi yang sedang menyelesaikan studi di Semarang datang. Setelah Bapak Ibu Sugi pulang, kami diajak untuk pergi ke Curug Sewu. Kami semua bersiap-siap sebentar lalu bergegas pergi ke Curug Sewu.

Perjalanan ke Curug Sewu dari Desa Sukomangli membutuhkan waktu sekitar 30 menit dan melewati Kantor Kecamatan Patean. Curug Sewu ternyata sangat indah. Air terjunnya (curug) bersih dan deras. Kami mengambil beberapa foto pemandangan Curug Sewu. Tapi setelah itu gerimis mengguyur. Dan kami pulang ke Sukomangli.

Tidak banyak yang saya kerjakan hari ini. Tapi entah kenapa, saya dan kawan saya merasa sangat lelah. Kami pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu senja. Setealah pukul 18.30 , kami berangkat ke tempat sharing masing-masing.
Saat sharing, saya diberi kesempatan untuk menceritakan kegiatan saya hari ini. Saya menceritakan tentang perjalana saya ke Curug Sewu. Setelah selesai menddengar cerita saya, Pak Ikhwan wali kelas X Olimpiade berkata bahwa sebenarnya menurut adat kebiasaan di Kecamatan Patean, pada bulan “Sura” sebaiknya jangan berkunjung ke Curug Sewu. Karena mitosnya, berkunjung ke Curug Sewu saat bulan Sura tersebut dapat membawa bahaya. Dan sharing malam ini kami malah diceritakan kisah-kisah misteri yang pernah terjadi di Sukomangli.

Senin, 18 Januari 2010
Hari ini saya dan teman-teman serumah saya diajak oleh bapak dan ibu Sugi untuk mengikuti kegiatan sehari-hari mereka yaitu pergi ke sawah. Setelah siap-siap sebentar, sekitar pukul 07.00 kami berangkat menuju ke sawah. Menurut yang dikatakan oleh Bapak Sugi perjalanan ke sawah memakan waktu sekitar 30 menit dan melewati jalan yang terjal.

Benar saja, baru beberapa menit berjalan kami harus melewati jalan yang berlumpur dan licin. Kami juga melewati hutan dan sungai kecil. Perjalanan yang jika ditempuh oleh Bapak Sugi hanya memakan waktu 30 menit, kini membutuhkan waktu sekitar 45 menit karena kami belum terbiasa melewati rute ini. Setelah berjalan lama, akhirnya kami sampai di sawah milik Bapak Sugi.

Di sawah ternyata sudah banyak buruh tanam yang sudah mulai “menandur” bibit padi. Tanpa menunggu lama, kami pun turun ke sawah dan mulai menanam. Saat melihat para buruh tanam tadi, kami piker menanam padi itu gampang. Namun saat melakukannya, ternyata kamii mengalami beberapa kesulitan. Mulai dari lumpur sawah yang dalam dan membuat kami terjatuh, tidak tahu cara memegang bibit yang benar, sampai tidak bisa menanam padi dengan rapi. Dan karena kami takut merusak tanaman padi Bapak Sugi, kami pun memutuskan untuk tidak membantu menanam lebih jauh.

Kami memutuskan untuk menyiapkan makan siang. Setelah kurang lebih pukul 11.00 kami makan siang. Ternyata ibu Sugi membawa makanan yang cukup banyak. Makan di sawah ternyata menyenangkan. Selain pemandangan yang indah, udaranya jua sejuk. Disamping itu, kami juga berbincang dengan buruh-buruh tanam.

Setelah makan siang, kami pulang menuju Live In House. Kami pun mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke pabrik karet melihat proses pengolahan karet. Kami berkumpul di Balai Desa kemudian langsung menuju perkebunan karet yang letaknya tidak jauh dari Balai Desa. Disana kami melihat bagaimana proses pengolahan karet. Namun sayangnya karena baunya yang menyengat, saya tidak bisa berada dekat-dekat dengan mesin pengolahan. Kami mellihat pengolahan karet sampai tahap akhir.

Setelah keluar dari perkebunan karet saya dan beberapa teman saya menuju kopel. Kami ingin mengambil beberapa foto disana. Ternyata disana kami bertemu beberapa anak kecil yang sedang bermain di Kopel. Kami mendengarkan cerita tentang Desa Sukomangli darii anak-anak tersebut.
Setelah cukup lama berada di kopel, kami pulang melewti lapangan desa. Ternyata disana sedang ada pertandingan sepak bola antara X-7 dan X Olimpiade. Kami memutuskan untuk menonon pertandingan tersebut.

Tidak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 16.30, dan kami pun pulang . Setelah mandi, istirahat dan makan malam kami berangkat untuk sharing. Sharing ini adalah sharing terakhir karena besok kami harus pulang ke Semarang.

Selasa, 19 Januari 2010
Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat dan kami sudah harus pulang. Pagi ini Sukomangli ditutup awan mendung. Setelah berpamitan dengan orangtua asuh, kami menuju Balai Desa. Kami dibawakan berbagai buah tangan dari Desa Sukomangli.
Setelah upacara penutupan, kami masuk ke bus dan pulang ke Semarang.
Live In ini benar-benar berkesan untuk kami. Banyak pengalaman yang kami dapatkan dari kegiatan ini.

Narasi Camelia Evi

2/9/10



Sabtu, 16 Januari 2010

Ini merupakan program character building di sekolah saya, SMA N 3 Semarang, dimana para siswa akan dititipkan pada orang tua asuh selama empat hari. Para siswa diharapkan dapat mengetahui dan merasakan bagaimana kehidupan di pedesaan. Kegiatan ini sudah sangat saya nantikan. Saya pikir ini akan menjadi pengalaman berharga sekaligus menyenangkan yang tak terlupakan.

Akhirnya hari itu datang juga. Sabtu, 16 Januari 2010 kami menuju ke tempat live in. Kelas saya, X-Olimpiade mendapatkan tempat di desa Sukomangkli. Sebelum berangkat, diadakan upacara terlebih dahulu di sekolah. Akhirnya bus mulai berangkat pukul 07.00.
Di dalam perjalanan, saya menghabiskan waktu dengan bercanda bersama teman-teman. Akhirnya kita tiba di kecamatan Patean. Di sana diadakan upacara penyambutan sebentar. Lalu perjalanan dilanjutkan ke desa masing-masing. Kelas saya berpasangan dengan kelas X-7 dan juga kelas XI susulan. Kami menuju desa Sukomangkli.

Sekitar pukul 11.30 saya dan rombongan tiba di desa Sukomangkli. Kami berkumpul di balai desa untuk menunggu orang tua asuh masing-masing. Akhirnya saya bertemu dengan orang tua asuh saya yaitu Ibu Hartinah. Saya tinggal serumah dengan Mila dan Nindy dari kelas X-7 serta Ratri, teman sebangku saya. Namun sayangnya Nindy tidak bisa ikut hari itu, dia akan menyusul pada hari berikutnya. Lalu saya, Mila, dan Ratri langsung menuju rumah Ibu Hartinah.

Rumah Ibu Hartinah tidak jauh dari balai desa. Bahkan dapat dikatakan sangat dekat. Setelah sampai di rumah, kami bertiga berbincang-bincang dengan ibu Hartinah di ruang tamu. Ibu Hartinah menceritakan tentang kehidupan di desa serta tentang keluarganya. Ibi Hartinah dan suaminya, Bapak Sukimin berprofesi sebagai petani. Mereka memiliki dua anak laki-laki, yang satu sedang kuliah di Jogja dan yang satunya bekerja sebagai guru SD di Sukomangkli. Selain sebagai petani, ibu Hartinah juga memiliki kambing dan bebek.
Setelah berbincang-bincang, kami membawa barang-barang bawaan kami ke kamar. Lalu kami disuruh makan siang. Setelah itu, kami melaksanakan shalat dzuhur di mushola, sekaligus berjalan-jalan melihat daerah dekitar situ.

Karena tidak tahu dimana musholanya, kami diantar oleh Lia, keponakan ibu Hartinah. meskipun baru kelas satu SD, Lia sangat pintar berbicara. Dia menceritakan banyak hal ketika mengantarkan saya dan teman-teman ke mushola. Ketika akan kembali ke rumah, kami melewati pohon coklat. lia bilang ingin mengambil buah coklatnya. Kemudian dia meminta izin pemiliknya untuk mengambil buahnya. Dia mengambil dua buah, yang satu diberikan pada kami. Ternyata buah coklat tersebut masih muda. Jadi tidak bisa dimakan.

Kemudian saya menghabiskan hari itu dengan berjalan-jalan bersama teman-teman. Ibu Hartinah mengatakan besok saja kerja dan bantu-bantunya. Saya dan teman-teman pergi ke hutan karet. Pemandangannya sangat mengagumkan. Lalu kami pun tidak menyia-nyiakannya. Kami berfoto-foto di sana. Menyenangkan sekali. Waktu itu pun Lia juga ikut bersama kami. Dia juga mengajak kami untuk pergi ke tempat yang biasa disebut kopel. Katanya kita dapat melihat pemandangan yang bagus dari tempat itu. Tapi teman-teman saya sebagian menolak, katanya besok saja pagi-pagi sekalian melihat matahari terbit.

Baiklah. Lalu saya dan teman-teman pergi ke lapangan sepakbola. Lapangan sepakbola yang dikelilingi hutan karet, terlihat begitu nyaman dan mengagumkan. Meskipun berada dekat kuburan, tapi tidak mengurangi keindahan tempat itu. Kami disana sebentar untuk menikmati suasana yang begitu nyaman dan tentram serta tidak lupa berfoto-foto. Setelah itu kami memutuskan untuk pulang.

Kemudian malam harinya, saya dan teman-teman X-Olimpiade serta XI susulan mengadakan sharing di balai desa. Setiap anak menceritakan apa yang sudah dilakukannya, diselingi dengan canda dan tawa. Benar-benar suasana yang menyenangkan. Akhirnya kami mengakhiri sharing sekitar pukul 21.30. Kami pulang ke rumah masing-masing.

Minggu, 17 Januari 2010
Keesokan harinya, saya dan Ratri bangun pukul 04.45. Saya dan teman-teman sudah berencana untuk pergi ke kopel untuk melihat matahari terbit. Rencananya kami berkumpul di balai desa terlebih dahulu pukul 05.00. Tetapi ketika saya dan Ratri kesana, tidak ada siapa-siapa. Kami hanya bertemu dengan teman kami Gatya yang memang rumahnya berada di depan rumah kami. Akhirnya saya dan teman-teman saya baru dapat berkumpul sekitar pukul 05.30. tentu saja rencana untuk melihat matahari terbit gagal. Tapi tidak mengapa, kami pun tetap pergi bersama-sama ke kopel.

Ternyata kopel berada di dekat lapangan bola. Kopel itu seperti rumah-rumahan bertingkat. Dan benar! Kita dapat melihat pemandangan yang sangat mengagumkan dari atas sana. Kita dapat melihat pemandangan di bawah yaitu hutan karet, sawah dan lain-lain. Sangat indah. Kami juga berfoto-foto disana. Setelah puas, kami memutuskan untuk pulang ke rumah.

Hari ini saya, ratri, dan Mila rencananya akan diajak ke sawah oleh Ibu. Teman kami, Riska dan Aghe serta Lia ternyata juga ikut bersama kami. Kami pergi ke sawah sekitar pukul 08.00. Perjalanan menuju ke sawah ternyata tidak sedekat yang saya pikirkan. Cukup jauh dan melelahkan. Tetapi tetap mengasyikkan.

Setelah melewati jalan yang cukup susah untuk dilalui serta berkali-kali jatuh dan terpeleset, akhirnya kami pun sampai di sawah milik Ibu. Ibu memiliki tanaman ketela dan jagung di sawahnya. Sawah itu pemberian orang tua katanya. Kemudian kami mulai membantu ibu mencari ketela. Ternyata tidak mudah. Ketelanya masih sedikit yang sudah bisa diambil. Belum waktunya panen sepertinya. Saya hanya mendapatkan tiga ketela. Di sawah tersebut juga ada tanaman berdurinya. Tangan dan kaki saya menjadi lecet-lecet tergores durinya.

Kami di sawah sampai sekitar pukul 11.00. Setelah itu memutuskan untuk pulang. Sebelumnya kami mengambil beberapa jagung terlebih dahulu. Kata Ibu mau dibuatkan jagung bakar. Pejalanan pulang cukup melelahkan, melewati jalan yang tidak mudah untuk dilewati. Harus berhati-hati agar tidak jatuh atau terpeleset. Kemudian kami sampai di rumah. Kami memutuskan untuk mandi. Setelah itu kami makan siang.

Karena sudah tidak ada lagi yang akan dikerjakan, saya dan Ratri memutuskan untuk berkunjung ke rumah teman-teman meskipun sebenarnya di dalam peraturan live in tidak diperbolehkan saling berkunjung ke rumah teman pada jam-jam sibuk. Pertama, saya dan teman-teman berkunjung ke rumah Siti. Di sana kita mengobrol sebentar. Kemudian kami berkunjung ke rumah Safira. Kami cukup lama berada di sana. Mengobrol, saling curhat, dan juga menghabiskan makanan Safira. Hehehe. Karena merasa sudah cukup lama bermain, kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Sampai di rumah, sore hari, ternyata Nindy sudah datang. Kemudian kami berbincang-bincang dengan Nindy.

Malamnya kami sharing lagi. Menceritakan apa saja yang dialami pada hari itu. Tertawa dan bercanda. Seru sekali. Tetapi karena hari itu banyak yang kelelahan, sharing berlangsung lebih cepat dari sharing sebelumnya. Setelah selesai, kami pun pulang. Sebelumnya kami membuat rencana besok pagi-pagi akan pergi ke luwung melihat matahari terbit, tempat dimana kita bisa melihat pemandangan, sama seperti kopel.

Senin, 18 Januari 2010
Keesokan harinya, saya dan Ratri bangun pukul 04.30. Dan hal yang sama lagi-lagi terjadi. Tidak sesuai rencana, kami terlambat dari waktu yang direncanakan. Gagal melihat matahari terbit. Tapi tidak mengapa, pemandangan di luwung sudah membuat kami puas. Di sana, seperti biasa, kami berfoto-foto. Setelah puas, kami pulang.

Hari ini saya, Ratri, Mila, dan Nindy rencananya akan pergi ke sawah lagi. Tapi kali ini bersama Bapak, bukan Ibu. Melewati jalan yang sulit dilalui, tapi tidak sejauh perjalanan kemarin. Ternyata kami bukan pergi ke sawah. Ya, bukan sawah, tetapi sebidang tanah di daerah hutan karet. Ternyata Bapak mempunyai beberapa pohon kopi di situ. Masih kecil tanamannya.

Pohon kopi tersebut baru saja disambung agar menghasilkan buah yang baik. Di sana kami tidak banyak membantu karena memang tidak ada yang perlu dikerjakan. Bapak hanya ingin menunjukkannya saja. Di sana kami duduk dan bercerita banyak dengan Bapak tentang kehidupan. Saya banyak belajar dari apa yang diceritakan Bapak. Setelah itu kami pulang ke rumah. Kami sempat mampir sebentar ke daerah pabrik. Kami melihat rusa yang ada di sana. Lucu dan menggemaskan. Saya juga sempat bermain ayunan di sana.

Ketika kami sampai di rumah, saat itu masih pagi. Lagi-lagi tidak ada yang akan dikerjakan. Lalu saya dan Ratri main ke rumah teman. Kami main ke rumah Kumala. Rumah Kumala sangat nyaman. Kami berada di sana cukup lama. Karena hari sudah mulai siang, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Hari ini rencananya kami semua, peserta live in desa Sukomangkli akan berkunjung ke pabrik pengolahan karet. Kami berkumpul di balai desa pukul 01.00. Kemudian kami menuju ke pabrik. Di sana kami melihat tahap-tahap pengolahan karet. Baunya yang tidak sedap sangat menyengat. Setelah selesai dari pabrik karet, saya dan teman-teman berencana pergi ke lapangan bola. Anak laki-laki akan bermain bola, hitung-hitung berlatih untuk bermain ligasha. Sebelum ke lapangan, kami mampir dahulu ke rumah Yasin dan Dian. Saya sempat meminjam sepeda kepada anak di daerah situ. Saya besepeda dengan Siti, saya membonceng berdiri di belakang. Saya berteriak-teriak sepanjang jalan karena ketakutan. Meskipun begitu saya merasa senang karena itu sangat seru.

Setelah dari rumah Dian, kami langsung menuju lapangan bola. Anak laki-laki bermain bola, sedangkan anak perempuan bermain kartu. Kami, anak-anak perempuan, bermain permainan tepuk nyamuk. Seru sekali. Bagi yang kalah mukanya akan dicoreng dengan bedak. Permainan itu dengan suksesnya membuat muka saya rata dengan bedak. Sangat menyenangkan bermain bersama teman-teman. Hari makin sore, kami memutuskan untuk pulang.

Malam hari, sharing tidak dilaksanakan seperti biasa. Sharing kali ini dilaksanakan di rumah Dika. Pada sharing kali ini orang tua asuh Dika bercerita bagaimana dia menjalani kehidupannya hingga akhirnya dia dapat membesarkan anak-anaknya menjadi sukses semua. Salah satu dari anaknya adalah ibu dari seorang artias, yaitu Vanessa Angel. Jadi, Vanessa Angel adalah cucunya. Banyak nilai-nilai yang dapat diambil dari cerita orang tua asuh Dika tersebut. Pukul 10.00 acara sharing selesai. Kami pulang ke rumah.

Tapi karena ini malam terakhir, rasanya tidak rela mengakhiri malam itu begitu saja. Kami pun tidak langsung pulang, tetapi berkumpul dan mengobrol di depan rumah yang ditempati Pak Ikhwan, wali kelas X-Olimpiade. Kami di sana hingga larut. Karena lama-lama merasa ngantuk, akhirnya kami pulang.

Selasa, 19 Januari 2010
Hari ini saatnya pulang. Kami diminta sudah berkumpul di balai desa pukul 07.00. Sebelum pulang, kami berpamitan dengan Ibu dan Bapak. Rasanya tidak rela berpisah dengan mereka dan meninggalkan desa Sukomangkli. Saya dan teman-teman serumah saya memberikan kenang-kenangan pada Ibu dan Bapak. Berharap mereka menyukainya.
Sebelum pulang, dilaksanakn penyerahan plakat terlebih dahulu. Barulah setelah itu pulang. Akhirnya sampai di SMA N 3 sekitar pukul 11.00. Lalu saya dijemput pulang oleh kakak saya.
Begitulah pengalaman saya dalam Live In. Sangat menyenangkan dan tidak akan terlupakan.

Narasi Sangaji Rahmanu




Sabtul 16 Januari 2010, merupakan hari keberangkatan siswa SMA negeri 3 Semarang ke kecamatan Patean untuk mengikuti program sekolah yaitu Live In. Pagi hari sekitar menjelang pukul 7 pagi, lapangan SMA 3 sudah dipenuhi oleh siswa kelas X yang terlihat sudah siap mengikuti Live In, termasuk juga saya. Satu tas besar dan satu tas kecil menjadi barang yang akan saya bawa.

Pukul 7 pagi, upacara pemberangkatan dilaksanakan, bapak kepala sekolah beramanat sejenak, lalu secara simbolis memakaikan topi merah sebagai tanda peserta Live In. Seusai upacara seluruh siswa mengecek barang-barang yang dibawa dan memasuki bis masing-masing. Bis nomor 13, bis yang mengangkut siswa kelas X olimpiade menjadi amat sesak karena banyaknya barang yang dibawa.

Perjalanan sekitar 3 jam menuju kecamatan Patean menjadi tidak terasa karena di dalam bis teman-teman saya mengisinya dengan bersenda gurau. Sesampainya di kantor kecamatan seluruh peserta Live In disambut oleh camat Patean. Setelah itu bis-bis menuju desa tujuan masing-masing, dan desa tujuan kelas saya, bersama dengan kelas X 7 dan XI susulan, adalah Desa Sukomangli. Desa Sukomangli dicapai kira-kira dalam waktu 20 menit dari kantor kecamatan.

Sesampainya di desa tujuan, di sekitar balai Desa Sukomangli terlihat dipenuhi oleh para orang tua asuh yang menunggu. Setelah para peserta Live In masuk ke balai desa, kami dipanggil persatu pasang dan bertemu dengan orang tua asuh kami lalu langsung menuju ke rumah yang akan kami tinggali selama 4 hari 3 malam. Saya dan Abrar, teman serumah saya, mendapati rumah yang akan kami tinggali adalah rumah yang cukup bagus serta nyaman. Orang tua asuh kami bernama bapak Kasmin, beliau memiliki beberapa pekerjaan mulai dari berkebun hingga membersihkan SD setempat.

Sekitar pukul 3 sore, saya dan teman-teman sekelas saya berkumpul lalu berjalan menuju hutan karet untuk sekedar berfoto-foto serta memandangi pemandangan yang ada di sekeliling. Udara yang sejuk serta cuaca yang tidak begitu panas menyelimuti Desa Sukomangli sore itu. Karena sore itu belum ada kegiatan bersama orang tua asuh maka kami hanya mengisinya dengan bersantai-santai.

Menjelang malam, saya bersiap ke balai desa untuk mengikuti sharing bersama teman sekelas saya, kelas XI susulan dan wali kelas. Walaupun malam itu hujan cukup deras, tidak mengurangi semangat kami menceritakan tentang orang tua asuh, rumah serta rencana esok hari. Sharing malam itu berakhir sekitar pukul 10 malam, kami pun pulang dan beristirahat untuk kegiatan esok hari.

Pagi harinya kami mendengar ada berita duka, seorang warga Desa Sukomangli meninggal dunia, rencana kegiatan hari itu berubah. Saya dan Abrar diajak Pak Kasmin untuk ikut membantu menggali kuburan. Saat sampai di makam sudah terlihat ada banyak orang di sana, yang akan bergotong royong menggali kuburan. Di sana saya juga bertemu empat teman saya yang ternyata juga diajak oleh orang tua asuhnya. Memotong-motong bambu, memindahkan tanah serta mengeduk tanah adalah kegiatan yang kami lakukan di sana. Sekita 1,5 jam lamanya akhirnya pekerjaan kami selesai. Lalu jenazah di bawa ke makam diiringi para pelayat. Setelah jenazah selesai dimakamkan dan didoakan, kami pun pulang dan beristirahat.

Sore hari menjelang, sekitar pukul 3 sore, Pak Kasmin mengajak saya dan Abrar menuju kebun, yang disebutkan di sana ditanami kopi. Di kebun tersebut, kami diajari Pak Kasmin teknik menyambung tanaman kopi yang dimaksudkan untuk mendapatkan kopi yang berkualitas baik. Setelah itu kami pulang sejenak lalu pergi lagi menuju ladang jagung, di sana kami membersihkan saluran irigasi yang tersumbat oleh tumbuh-tumbuhan.

Sekitar pukul 5 sore kami pergi ke lapangan sepakbola yang berada di sebelah makam, mengetahui akan ada pertandingan sepakbola di sana, pemuda Desa Sukomangli berhadapan dengan orang-orang dari Mijen. Walau tidak melihat pertandingan sepenuhnya, tapi saya tahu bahwa Sukomangli menang 7-1.

Pukul setengah 7 malam, seperti hari sebelumnya, kami berkumpul di balai desa untuk melakukan sharing, menceritakan berbagai kegiatan yang kami lakukan bersama dengan orang tua asuh masing-masing. Kami semua tertawa mendengarkan berbagai cerita lucu mengenai kegiatan di hari itu.

Keesokan harinya, Pak Kasmin mengajak saya dan Abrar ke SD Sukomangli. Kami berencana akan mmenyapu halaman sekolah serta membantu pak Kasmin menyemen satu bagian di sekolah, tapi sebelum itu kami menunggu para siswa melaksanakan upacara bendera karena hari itu adalah hari Senin. Membersihkan halaman sekolah dari dedaunan tidaklah mudah karena pagi itu angin bertiup cukup kencang. Setelah selesai dengan menyapu, kami membantu Pak Kasmin mengambil pasir, mengangkut semen lalu membuat adonan semen yang digunakan untuk membuat semacam jalan kecil dari semen.

Matahari sudah berada di atas kepala, kami pun pulang untuk beristirahat dan makan siang. Pukul 1 siang seluruh peserta Live In di Desa Sukomangli berkumpul di balai desa, kami akan diajak ke pabrik karet dan berkeliling. Kami melihat proses pembuatan karet dari yang masih berbentuk getah hingga yang sudah dikemas dan siap dikirim. Kami boleh mengambil foto di sini, namun foto tersebut tidak boleh dipublikasikan.

Seusai dari pabrik karet, kami memutuskan untuk bermain bola di lapangan bersama anak-anak Desa Sukomangli. Perlu diketahui, lapangan sepakbola di sana kualitasnya sangat baik, dengan ukuran yang katanya standar internasional dan rumput yang rata. Kami bermain hingga lupa waktu dan selesai karena merasa sudah lelah.

Saya pulang ke rumah, lalu tidur hingga menjelang maghrib. Setelah bangun, saya, Abrar dan orang tua asuh kami makan malam bersama, kami mengobrol hingga ada teman yang menghampiri untuk sharing malam terakhir. Malam ini, saya dan teman sekelas saya ditambah kelas XI susulan berkumpul di rumah orang tua asuh Mahardika.

Kami mendengarkan cerita dari orang tua asuh Mahardika tentang hidupnya yang susah dan penuh perjuangan, kami pun bisa memetik banyak hal dari cerita beliau. Seusai acara sharing, kami tidak langsung pulang, namun berkumpul dan bercerita dahulu sambil menunggu teman dari X 7 selesai dengan sharing-nya. Walau jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam, tapi kami belum merasa mengantuk. Setelah teman sekamar kami selesai, kami pulang ke rumah dan tidur.

Esok pagi saya langsung berkemas-kemas karena hari itu adalah hari kepulangan kami. Saya menyempatkan untuk berjalan-jalan pagi sejenak bersama beberapa teman saya. Setelah mengetahui bis sudah datang, saya dan Abrar pamit, tidak lupa untuk berfoto bersama. Pak Kasmin memberi kami oleh-oleh yaitu krupuk dan jagung.

Di balai desa sudah ramai oleh para peserta Live In yang bersiap untuk pulang. Setelah penyerahan plakat kepada kepala desa, kami bersalaman dengan para orang tua asuh dan berpamitan. Bis pun berangkat kembali ke SMA 3. Live In menjadi salah satu pengalaman yang mengesankan serta tidak terlupakan bagi saya, dan seluruh peserta Live In tentunya.

Narasi Si Ghamdan

“Saudara-saudara, setelah kita pulang dari Sukomangli, pelajaran dan pengalaman yang kita dapatkan selama 4 hari ini marilah kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.”. Kemudian, tepuk tangan bergemuruh.

Itulah pernyataan sang penulis setelah diminta tanggapannya oleh Pak Ikhwan, Wali Kelas X-Olimpiade, setelah mendengarkan perjalanan hidup salah seorang warga di Desa Sukomangli, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, yang bernama ibu Ety Sukarni.

Ya. Selama empat hari mulai tanggal 16 hingga 19 Januari 2010, para siswa kelas X SMA 3 Semarang melaksanakan acara yang diberi nama Live In. Acara yang diselerenggarakan setiap ini mengajak para siswa mengikuti aktivitas sehari-hari penduduk di pedesaan (dalam hal ini kelas X-Olimpiade, X-7, dan XI Gabungan ditempatkan di Desa Sukomangli) dan dapat bersosialisasi dengan masyarakat pada umumnya.

16 Januari 2010 - HARI PERTAMA

Sabtu pagi (biasanya bangunnya agak siang, ya kalau hari sabtu khusus pengembangan diri, bukan KBM) dengan sangat terpaksa harus bangun pagi karena menurut jadwal jam 6 sudah harus siap di sekolah, maka sang penulis mulai pukul 4 pagi sudah siap packing dan setengah 6 pagi sudah meninggalkan rumah. Sesampainya di sekolah, yang terlihat hanyalah suasana kosong melompong alias masih sepi. Bus yang akan mengangkut peserta Live In belum hadir. Sembari menunggu, sang penulis mencoba mencari rekan-rekan kelas yang lainnya. Tak lama berselang, sekolah mulai penuh dengan lautan mobil dan manusia, begitu juga bus yang akan mengangkut telah sampai. Sebelum upacara pemberangkatan, para peserta mendapatkan topi yang wajib digunakan selama pelaksanaan live in.

Saatnya upacara pelepasan. Upacara dipimpin oleh Bp. Hari Waluyo (Kepala SMA 3 Semarang). Tidak lupa dalam upacara ada pelepasan peserta secara simbolis dengan memakaikan topi kepada 2 perwakilan siswa. Setelah upacara, seluruh peserta mulai memasuki bus kelas masing-masing. Bus kelas sang penulis bernomorkan 13 (bukan berarti jalannya paling belakang). Tak diduga, bus yang digunakan kelasnya sang penulis ada AC-nya

“Tadi saya nempelin nomornya aja acak lho,”tutur Pak Ikhwan.

Walau begitu, bus ini hanya berkapasitas 27 orang. Karena murid satu kelas berjumlah 32, maka sisanya dengan terpaksa duduk di tengah. Sayang, walau ini bus berAC, AC-nya tidak dihidupkan. Suara mesin distater pun terdengar, saatnya berangkat. Selama perjalanan, tak ada yang istimewa kecuali senandung dangdut yang mengalun saat memasuki Kendal. Namanya aja anak muda jaman sekarang, pastinya ya tidak suka dengan dangdut pedesaan. Jalan yang ditempuh untuk mencapai Kantor Kecamatan Patean pun banyak sekali tikungan karena terletak di pegunungan yang pastinya di bawahnya ada jurang.

Dua jam berselang, akhirnya kami pun sampai di Kantor Kecamatan Patean untuk mengikuti upacara penyambutan. Dalam upacara ini dilakukan pengenalan kepala desa se-Kecamatan Patean, Kab. Kendal.

Upacara penyambutan ini tak lebih dari 30 menit. Selanjutnya para peserta menuju desa tujuannya masing-masing. Kelas X-Olim bersama X-7 dan XI Gabungan (yang tahun lalu tidak dapat mengikuti Live In karena alasan khusus) menuju desa Sukomangli. Karena ada bus yang harus kembali ke Semarang, maka kelas XI Gabungan bergabung di bus X-Olim. Pastinya sesak bukan main.

Akses menuju desa ini masih terbilang belum terawat dan bahkan ketika sampai di desa ini jalannya masih berupa jalan batu. Sungguh, ini merupakan keadaan yang sangat kontras karena di desa ini ada pabrik karet milik PT PN IX (Persero).

Akhirnya, sampailah juga kami di desa Sukomangli. Terlebuh dahulu kami berkumpul di balai desa untuk mendapatkan arahan dan menunggu orang tua asuh selama di desa ini. Sang penulis bersama Itqam, Dimas, dan Ari mendapat orang tua asuh sebagai tani. Beliau bernama pak Ngadimin.

Si Mahardika, atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Slim, mendapat orang tua asuh yang bernama Ety Sukarni. Tak tanggung-tanggung,beliau merupakan nenek dari artis Vanessa Angel.

Setelah kami berkenalan dengan Pak Ngadimin, kami berempat langsung menuju ke rumah beliau. Jalan menuju rumahnya agak jauh, ditambah dengan jalannya yang agak menanjak dan masih berupa bebatuan. Tak sampai 10 menit, kami pun sampai di rumah beliau. Bayangan saya, rumahnya masih kayu dan belum berkeramik. Ternyata dugaan saya agak melenceng. Alhamdulillah, lantainya berupa keramik, tapi bangunan utama masih berupa kayu (kecuali kamar mandi sudah memakai batu bata). Kamar mandinya seperti di kota.

Kami pun langsung menuju ke ruang tamu. Pak Ngadimin pun mengajak kami untuk mengobrol sejenak dengan Bahasa Jawa Krama yang intinya meminta maaf jika keadaan rumahnya ya seperti ini, dan nantinya lauknya ya seadanya. Kami pun mengiyakan tidak apa-apa.

‘’Perlu diketahui, sebagian masyarakat di desa ini dalam berkomunikasi lebih sering menggunakan bahasa Jawa daripada bahasa Indonesia’’

Pak Ngadimin memiliki dua orang anak, anak pertama berumur 7 tahun, sedangkan anak kedua berusia kurang lebih dua setengah tahun.

Karena kami sampai di rumah saat waktunya makan siang, langsung saja kami makan siang bersama. Lauknya seperti yang saya makan sehari-hari (wejian). Setelah makan siang, kami mencoba mengakrabkan diri dengan kedua anak Pak Ngadimin, Roni dan Fitri

Lalu, tak ada salahnya kami menyempatkan diri untuk melihat seisi rumah. Ketika saya masuk ke dapurnya, WOW. Masih berupa tanah dan di dapur ini saya menemukan tiga jenis kompor, ada kompor kayu, kompor gas bantuan pemerintah, dan kompor minyak tanah. Di samping dapur ada kandang sapi. Sapinya ada satu. Walaupun begitu, sapinya terlihat jarang mandi. Di belakang kandang, ada halaman yang cukup luas yang nantinya digunakan untuk menjemur padi.

Tak terasa sore pun tiba, saya mencoba berjalan-jalan menuju sebuah lapangan sepak bola. Ternyata, banyak rekan-rekan saya yang sedang bermain di sana. Masya Allah, luasnya bukan main. Yang lebih unik, lapangan ini dikelilingi oleh hutan karet dan di sampingnya terdapat makam penduduk setempat.

Karena hampir maghrib dan cuaca sudah tak mendukung, saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Benar, hujan pun langsung mengguyur Sukomangli. Derasnya bukan main

Setelah maghrib, masing-masing kelas melakukan malam sharing. Malam sharing berarti siswa dengan bebas menyampaikan narasi pembelajaran berdasarkan pengalaman mereka saat beraktivitas pada hari itu. Dalam menyampaikan narasi pembelajaran tersebut, para siswa menguraikan kesan-kesan, refleksi diri, dan hikmah pelajaran apa saja yang bisa memperkaya batin mereka. Narasi pembelajaran ini pula yang akhirnya dijadikan isi laporan Live In tertulis kelas masing-masing. Untuk kelas X-Olimpiade dan XI-Gabungan sudah sepakat untuk melaksanakan malam sharing di balai desa. Walau hujan terus mengguyur, the show must go on.

Narasi dilakukan menurut urutan absen. Tentu saja, tak lengkap tanpa ada kudapan. Si Nisa membuatnya tadi sore (walau pada akhirnya masih sisa banyak). Pada malam sharing kali ini, penuh sekali guyonan karena ya tentu saja pengalaman pertama mereka hidup di desa.

Ada yang menarik dari saya. Saya menggunakan baju koko yang biasanya digunakan dalam acara keagamaan, seperti shalat id. Rekan-rekan saya bisa dibilang cukup kaget dan bahkan ada yang tertawa. Tak apa. Harus beda dengan yang lain. Topik malam sharing yang pertama adalah keadaan keluarga asuh dan rencana aktivitas esok hari. Tetapi ada juga yang sudah beraktivitas pada hari pertama, seperti Irham. Ia bersama orang tua asuhnya membuat krupuk dari awal peracikan hingga packing. Si Luthfi bersama rekannya dari X-7, Dhewa, bersama ibu asuhnya terjun ke kebun. Wow. Tapi, ada cerita yang dirasa sangat mengagetkan. Saat giliran si Audi, ia menceritakan bahwa orang tua asuhnya baru saja berduka. Spontan, satu kelas kaget. Pak Ikhwan rencananya mau memindahkan si Audi ke tempat lain, tapi si Audi mengatakan bahwa rasanya kasihan juga, nanti malah gela (kecewa-Red).

Lalu, saat giliran si Reza Bun, ia menceritakan hal yang sangat jauh dari bayangan kami sebelumnya.

“Sebelum mandi, BAB dulu tho pak...”. Satu kelas langsung tertawa.

“E...tiba-tiba, ibunya yang punya rumah membuka pintu WC.”

Salah seorang rekan menyeletuk “Dengan perasaan bangga ya??”

HUAHAHA....

Akhirnya, hujan pun reda. Karena sudah terasa larut, pukul setengah 10 malam sharing yang pertama selesai. Kami pun pulang dan bersiap-siap untuk melakukan aktivitas pada besok hari.

HARI KEDUA – 17 JANUARI 2010

Pukul 5 pagi saya mulai bangun dan langsung shalat subuh. Sebelumnya saya ditawari teman-teman sekelas untuk melihat sunrise di daerah yang bernama Kopel. Saya pun mengiyakan. Untuk mencapai Kopel, kami harus melewati hutan karet yang terletak tak jauh dari lapangan sepak bola. Tak lebih dari 20 menit, kami pun sampai. Subhanallah, indah sekali pemandangan di sini. Benar-benar lukisan alam ciptaan Yang Maha Kuasa. Pastinya kami tak puas hanya dengan melihat ‘lukisan’ ini begitu saja, tentunya kami sempatkan diri dengan berfoto ria. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 6, dan artinya kami harus beraktivitas dengan orang tua asuh masing-masing, kami pun langsung membubarkan diri. Saat perjalanan kembali, di lapangan sepak bola ada si Bela yang baru saja datang untuk melihat sunrise di Kopel. Sayang, ia pun tak dapat ke sana karena tak ada yang menemani. Namun, ada juga rekan-rekan saya yang menyempatkan diri untuk bermain sepak bola sebelum pulang.

Sang penulis langsung kembali ke rumah. Di rumah hanya ada si Itqam. Sementara, orang tua asuh kami sedang menyiapkan sarapan. Sambil menunggu, kami membantu bapak asuh kami memberi makan sapi. Rasanya enak juga. Tak lama kemudian, Ari dan Dimas pun datang dan langsung bergabung dengan kami. Setelah memberi makan sapi, kami diajak untuk menjemur padi. Mula-mula, kami harus memindahkan alas yang terbuat dari bambu dan 2 karung besar nan berat yang berisi padi. Memang merepotkan sih, mau bagaimana lagi. Saat menjemur padi dengan tangan, rasanya agak gatal (apa banyak kutunya ya?). Apalagi, pekerjaan ini wajib dilakukan setiap hari. Saya tak bisa membayangkan pak Ngadimin melakukan hal ini seorang diri.

Akhirnya, pekerjaan untuk pagi ini selesai sudah. Saatnya menonton berita yang intinya tak lain adalah Pansus Century. Akhirnya, saat yang dinantikan telah tiba, SARAPAN. Jika biasanya di rumah sang penulis sarapan dengan makanan yang terdiri dari telur, daging, dan susu, kali ini tidak. Sarapannya hanya oseng kangkung, krupuk, kering tempe dan teh. Sungguh, apa adanya. Walau sebenarnya ini bukan menu 4 sehat 5 sempurna, tapi saya tetap mensyukuri hal ini . Dalam hati saya berkata:”Ya Allah, beruntung sekali hambaMu ini. Ternyata, masih banyak orang yang makannya tidak seperti saya.”

Setelah sarapan, rencana selanjutnya adalah ikut beraktivitas dengan orang tua asuh. Tetapi, karena beliau-yang sepertinya merupakan ustadz setempat-melayat seorang warga yang baru saja meninggal. Beliau pun juga diserahi tugas untuk mendoakan jenazah. Kami pun sabar menunggu.

Sambil menunggu, lagi-lagi menonton TV. Hari Minggu ya film kartun, sebut saja Toys Story 2 dan Doraemon. Inbox pun tak ketinggalan. Saat lagu dari Nidji yang berjudul Sang Mantan mengalun saat reff:

“Mana janjii maanissmuuuu....”

Tiba-tiba:

“Kula nuwuuuun (Permisi-Red).”

Ternyata eh ternyata, orang yang datang itu tidak lain adalah Pak Ikhwan dan Bu Emmy yang sedang melakukan survey ke setiap rumah yang ditempati siswa. Mereka pun bengong dan berkata:

“Ndan, kok nggak kerja?”

“Bapaknya nglayat pak..”

Tadi pagi kalian udah kerja apa aja?,”tanya Bu Emmy.

“Makani sapi sama jemur padi..”

“Di mana?”

“Di belakang”

Ayo, jemur padinya diulangi lagi. Mau tak foto buat dokumentasi,

Seketika, kami berempat pun langsung menuju ke belakang dan berpose seolah-olah menjemur padi seperti tadi pagi. Setelah proses pendokumentasian, Pak Ikhwan dan Bu Emmy berbincang sejenak dengan ibu asuh kami sambil menyerahkan uang hidup selama 4 hari.

Setelah Pak Ikhwan dan Bu Emmy berpamitan, Pak Ngadimin datang dan langsung mengajak kami ke ladang jagung miliknya. Dalam agenda hari ini, kami ke ladang jagung untuk mencabuti dedaunannya yang nantinya akan digunakan untuk pakan sapi.

Sebelum berangkat, beliau menyuruh kami untuk memakai sepatu but. Walau agak besar, tak apalah. Ladang jagungnya terletak cukup jauh dari rumahnya. Jalannya pun menurun agak curam dan melalui sawah. Sang penulis dan handycamnya hampir jatuh ke kali karena terpeleset saat akan menyeberangi sungai.

“Kalo handycamnya jatuh ke kali, acara dokumentasinya bubar..”

Akhirnya, setelah melewati halang-rintang seperti di negeri-antah-berantah-nggak-jelas-di-mana, kami sampai di ladang jagungnya. Beliau juga mengingatkan jika saat mencabuti dedaunan, tangan kami agak gatal sedikit.

Terkadang, ketika mencabuti dedaunan, tiba-tiba muncul semut dengan jumlah yang tak karuan banyaknya atau serangga yang bisa dibilang ‘membahayakan’. Saya kira ladangnya hanya sepetak, ternyata lebih dari itu. Otomatis, kami pun berlama-lama di sini sampai tengah hari. Saya pun tak dapat membayangkan bagaimana Pak Ngadimin jika melakukan hal ini sendirian.

Daun yang telah terkumpul pun sudah banyak. Saatnya pulang. Dalam perjalanan pulang, jalan yang kami lalui sangat licin dan berlumpur. Terpaksa kami ber-cekeran ria.

Begitu sampai di rumah dan menaruh hasil memetik dedaunan tersebut, kami langsung istirahat sejenak (baca:tidur) sekalian untuk mempersiapkan diri pada malam sharing nanti.

Tak terasa, sore telah tiba. Tak ada salahnya kami bermain-main sejenak dengan kedua anaknya Pak Ngadimin sambil menonton TV. Tiba-tiba, ada seorang perempuan berteriak:

“NDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN.”

Seisi rumah kaget dan terkejut. Setelah kami mengecek, ternyata itu adalah suara Addin yang mengajak saya dan Itqam untuk pergi bersama ke balai desa untuk malam sharing. Topik malam sharing kedua ini adalah pekerjaan yang dilakukan siang tadi. Karena banyak yang teler karena bekerja seharian, maka malam sharing diakhiri 30 menit lebih awal.

Setelah malam sharing usai, rekan-rekan saya mengajak saya pagi harinya melihat sunrise di Luwung, tapi dengan terpaksa saya menolak dengan alasan untuk menjaga kondisi. Salah seorang rekan saya, Luthfi Hamid, meminta ijin untuk meminjam kamera sang penulis untuk digunakan dalam dokumentasi. Tentunya saya mengijinkan karena saya masih punya cadangan, handycam.

HARI KETIGA – 18 JANUARI 2010

Pukul 6.00, saya bangun drai tidur. Tetapi, Dimas dan Ari tampaknya sudah pergi lebih pagi dengan rekan-rekannya dari X-7 untuk melihat sunrise. Karena pekerjaan inti masih lama, saya mencoba melihat sapi di kandang. Ternyata, Pak Ngadimin sedang membersihkan kandang. Sejurus kemudian, saya pun berkata kepada beliau yang intinya saya diperbolehkan membantu membersihkan kandang sapi. Beliau pun mengijinkan

Ini pertama kalinya saya membersihkan kandang sapi, yang sudah banyak kotorannya pula. Baunya pun sedap, bagaikan Eau De Toire (bo’ong banget). Untuk membersihkannya butuh tenaga ekstra. Dengan berbekal serok yangterbuat dari kayu, maka kotoran terseput dikumpulkan dan natinya akan ditaruh di kebun yang tak jauh dari rumah Pak Ngadimin untuk dijadikan pupuk.

Setelah acara membersihkan kandang selesai, saatnya kotoran tersebut dibawa ke kebun dan ditaruh begitu saja agar nantinya menjadi pupuk. Saya mencoba bertanya:

“Pak, ini nanti pupuknya ada yang ngambil.”

“Iya, lumayan nak, bernilai jual.”

Kemudian, kami kembali ke rumah dan sarapan. Selanjutnya, kami diajak untuk menanam d kebunnya. Kali ini bukan di depan rumah yang saya tulis tadi, melainkan mblusuk di hutan. Perjalannya pun bagaikan saat saya menuju ke Air Terjun Semirang. Jalannya pun masih berupa lumpur, sebelahnya jurang. Tak kusangka, sandal swallowku njebat. Malang nian. Terpaksa, sandal swallow itu saya tinggal dan saya pun melanjutkan perjalanan dengan cekeran sambil mendokumentasikan agenda hari ini (walaupun sangat berisiko karena sewaktu-waktu dapat terpeleset ke jurang). Setelah mblusuk-mblusuk hutan kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya sampai juga di kebun yang dimaksud. Pak Ngadimin juga mengatakan bahwa jika di sini jangan heran jika dirubung (dikelilingi-Red) nyamuk. Mau kenalan katanya...

Saya jadi lupa, Pak Ngadimin sejak awal perjalanan membawa kapak, pisau, dsb. Mau apa ya?

“Sekalian cari kayu buat masak.”

“HA?”

Walau di rumahnya sudah ada elpiji 3 kg bantuan pemerintah, ternyata beliau masih setia dengan kayu bakar sebagai alat untuk memasak. Sungguh ironi. Maka dari itu, beliau membawa tumbuhan untuk ditanam (mungkin) sebagai tanggung jawab atas pengambilan kayu sekaligus melestarikan alam (wejian). Kayu yang diambilnya cukup banyak. Sang penulis penasaran dan ingin mencoba memotongnya. Ternyata susah juga. Kali ini, Pak Ngadimin tidak mau dibantu dalam membawa kayunya. Berat soalnya.

Agenda hari ini selesai. Saatnya istirahat di rumah (baca: tidur siang). Karena nantinya pukul 13 siang, X-Olim, X-7, dan XI-Gab. akan tur darmawisata ke pabrik pengolahan karet milik PT PN IX. Capek rasanya badan ini. Walau bagaimanapun, kami tetap mengikuti tur ini. Sebelum berangkat, kami menjemput beberapa rekan kami dan berkumpul di balai desa.

Sesampainya di balai desa, Pak Ikhwan bercakap-cakap dengan saya:

“Ndan, untung si Yasinia mengingatkan saya untuk meminta ijin ke sana (PT PN IX). Ternyata, setelah sampai sana, birokrasinya lamanya minta ampun. Sampai ke Semarang segala urusannya. Kita meyakinkan pengelolanya jika kita sudah menggunakan desa ini berkali-kali. Akhirnya, pengelolanya mengijinkan.

Untuk urusan dokumentasi, memang boleh. Tetapi tidak boleh dipublikasikan ke manapun alias untuk kalangan sendiri.”

Sang penulis pun kaget, wow. Maka, kali ini saya tak dapat bercerita banyak bagaimana suasana di pabrik karena ya itu tadi, dokumentasi hanya untuk kalangan sendiri.

Setelah puas darmawisata gratis ini, robongan X-Olim terlebih dahulu singgah di rumah sementaranya si Yasin sambil mencicipi berbagai kudapan yang ada di rumah ini. Kemudian, mampir di rumah sementaranya si Shena untuk mampir minum. Rumah sementaranya si Shena ini rumahnya pak carik. Bisa dibilang barang-barang yang ada di rumah ini seperti di kota, seperti laptop.

O, iya, saya lupa mengatakan jika ini adalah hari terakhir kami di desa Sukomangli. Maka, sore harinya kami manfaatkan betul dengan bermain bersama anak-anak setempat. Si Yaris dan Bela mencoba menaiki sepeda yang jelas-jelas sepeda untuk anak 10 tahunan. Selanjutnya, rombongan putra bermain sepak bola yang sangat sejuk di desa ini. Sementara para rombongan putri dolanan keplok nyamuk, sama saat seperti GPLB. Puas sekali rasanya.

Menjelang maghrib, kami pun pulang ke rumah masing-masing untuk persiapan malam sharing yang kali ini surprise, maksudnya tempat dan narasumbernya masih dirahasiakan. Sesampainya di rumah, saya bersama Itqam bermain bersama Roni dan Fitri untuk yang terakhir kalinya. Hiks.

Malam harinya, kami berempat (saya, Ari, Dimas, Itqam) makan malam bersama Pak Ngadimin dan Ibu di ruang tengah sambil berbincang-bincang sejenak. Saya mencoba untuk bertanya (bahasa kerennya mewawancarai) Pak Ngadimin.

=================================================================

“Pak, kalau boleh tahu bagaimana asal usul desa Sukomangli?”

Dahulu (menurut legenda), di desa sini ada bahurekso yang sangar, gagah, pokoknya yang hebat-hebat. Setiap kali ada maling atau pencuri pasti kembali. Maksudnya nggak jadi nyuri. Makanya, desa ini diberi nama Sukobali. Namun, saat penjajahan Jepang, nama desa ini diubah menjadi Sukomangli, sampai saat ini.

“Jadi sampai saat ini kasus pencurian, pemerkosaan, penganiayaan itu tidak ada, Pak?”

Iya. Alhamdulillah tidak ada, bisa dikatakan nol kriminalitas. Kalau misalnya saya naruh motor di luar sampai pagi pun masih utuh. Perlu diketahui saja nak, pabrik karet PT PN di sini itu sebenarnya warisan Belanda. Desa ini memang dulunya basisnya Belanda.

“Untuk penduduknya, Pak, rata-rata berpendidikan atau lulusan apa?”

Di sini rata-rata lulusan SMA, kalau lulusan PT bisa dihitung dengan jari. Bahkan ada juga lulusan SD, nak. Kalau pekerjaan rata-rata among tani, ya ada juga yang kerja di pabrik.

“Setiap daerah pastinya mempunyai kebiasaan atau adat istiadat ya Pak, kalau di desa sini ada kebiasaan khusus seperti saat merayakan Idul Fitri atau Idul Adha?”

Tidak ada. Dulu pas bulan puasa anak-anak sini membangunkan sahur sambil keliling-keliling sambil menabuh atau memukul botol. Tapi sekarang tergantikan oleh pengeras suara mushala.

=================================================================

Tak terasa, waktu untuk melaksanakan malam sharing yang terakhir telah tiba. Saatnya kami berempat menuju tujuannya masing-masing. Namun, rombongan kelas saya berkumpul terlebih dahulu di baldes. Katanya sih tempatnya masih dirahasiakan, apalagi narasumbernya. Istilah kerennya special guest.

Setelah Pak Ikhwan datang di baldes dan langsung mengajak kami ke tempat yang dirahasiakan tersebut. Beberapa rekan kami sudah menduga jika kita akan ke rumahnya Slim. Ternyata, tebakan itu betul. Saat kami datang, Slim dan rekan serumahnya sedang bermain kartu. Apalagi kepergok wali kelas. Duh..duh..duh...

Topik malam sharing terakhir ini sangat menggugah hati, yaitu mendengarkan kisah hidup seorang warga yang dinilai sukses dalam mengurus anaknya. Dalam hal ini, narasumber tersebut adalah Ibu Ety Sukarni.

Tetapi, dalam malam sharing ini, yang lebih banyak berbicara adalam anak pertamanya, Mulyadi.

“Jika ibu disuruh cerita, pasti nggak sampe hati.”

Memang, dalam malam sharing yang terakhir ini mengisahkan keluarga Ibu Ety Sukarni bagaimana menghidupi keluarganya seorang diri.

Saat anak-anaknya masih sekitar usia SD-SMP, suami Ibu Karni meninggal. Fasilitas yang didapat keluarga dari tempat suaminya bekerja, PT PN, langsung dicabut karena yang bersangkutan meninggal dunia. Ibu Karni langsung memutar otak bagaimana menghidupi anaknya yang berjumlah 8. Ide yang muncul adalah dengan berjualan tempe keliling kampung. Langsung beliau melakukan itu. Bahkan salah satu anaknya sampai ngenek.

Alhamdulillah, kini semua anaknya sudah mentas. Bahkan, salah satu cucu Ibu Karni adalah seorang artis.

Seisi ruangan langsung trenyuh saat mendengar kisah ini.

Kemudian, beberapa siswa dimintai tanggapannya. Sebut saja Gatya, Bun, Verdy, Irham, dan tentu saja sang penulis.

Tetapi sayang, ketika Gatya dimintai tanggapannya, ia malah menceritakan ketika ia bekerja bersama orang tua asuhnya di sawah. Sungguh bertolak belakang. Saat sang penulis memberi tanggapan dan saat mengucapkan kata ‘IMPLEMENTASI’, seisi ruangan langsung bertepuk tangan. Dalam batin apa mereka tak pernah mendengar kata ‘IMPLEMENTASI’ atau saya baru mengucapkan kata ini sekali.

Nonog pun menyeletuk,”Kaya sambutan ning kecamatan wae (Seperti sambutan di kecamatan saja-Red)”.

Tanggapan saya memang panjang lebar sih sebenarnya, seperti sambutan. Memang benar dia.

Setelah saya memberikan tanggapan, langsung saja acara malam sharing yang terakhir diakhiri. Saatnya berkemas dan istirahat karena kami sudah harus meninggalkan desa ini pukul 7 pagi.

HARI TERAKHIR – 19 JANUARI 2009

Sebenarnya, saya tidak tega untuk meninggalkan segala keramah-tamahan di desa ini, apalagi keluarga yang saya tempati. Namun, jadwaln tetaplah jadwal yang harus dijalankan. Maka pukul 7.00 kami berempat berpamitan dan mengucapkan terima kasih serta memohon maaf apabila jika selama 4 hari ini kami melakukan kesalahan yang berarti. Roni dan Fitri yang sudah kami anggap seperti adik kami sendiri sudahmengikhlaskankepergian kami. Sebelum pergi ke baldes, kami bertukar kenang-kenangan. Kami berempat mendapatkan satu dus berisi camilan dan krupuk yang biasa kami makan di sini.

Bus yang akan membawa kami pulang menuju Semarang pun telah tiba. Rombongan dikumpulkan terlebih dahulu di baldes untuk upacara perpisahan dan pemberian kenang-kenangan dari sekolah.

Sebelum semua anggota rombongan pulang, kami juga menyempatkan diri untuk berpamitan dengan semua anggota masyarakat di desa ini. Saatnya masuk bus yang sangat sesak. Para penduduk pun melepas kepergian kami.

Pembaca yang budiman, Live In yang telah dilaksanakan ini menurut saya sangat berhasil dalam membentuk karakter seseorang untuk lebih peka dan peduli dengan masyarakat di sekitar, apapun strata sosialnya. Dan saya juga semakin lebih menghargai pekerjaan seseorang apapun itu asalkan dengan cara yang halal.

Jangan menyerah, teruslah berkarya. Syukuri apa yang ada, karena hidup adalah anugerah.

Narasi Shena Meita

2/7/10


STARTING THE JOURNEY

16 Januari 2010, hari pemberangkatan LIVE IN yang kutunggu-tunggu telah tiba. Tak seperti seharusnya, di hari se-special itu aku malah bangun terlambat dan terpaksa berangkat terburu-buru tanpa memungut secuil makananpun. Di perjalanan, kupakai sepatu ketsku tak lupa kupatutkandiriku di cermin kecilku. Debar jantungku terasa sangat kuat. Semoga aku tak terlambat apalagi ditinggal bis.

Sesampainya di sekolah aku masih bingung. Katanya mau LIVE IN kok bisnya belum datang, tapi pikiran itu kubuang jauh-jauh. Turun dari mobil, dengan perut yang terasa teriris-iris pisau karena belum makan, aku lekas menarik koperku dan menjinjing 2 tas besarku itu dengan cepat ke arah selasar Ruang Seni 3.

Kuharapkan aku dapat menjumpai teman-temanku yang sudah menunggu dari tadi. Sesampainya di sana, seluruh bayangan yang telah kuharapkan itu pudar seperti terhembus angin. Hanya kudapatkan seorang temanku, Nisrina Nur Addin yang akrab kupanggil Addin yang sedang bermain hp-nya. Oh My God. Kecewanya diriku. Diriku yang semulanya sangat bersemangat langsung loyo begitu saja. Bahuku terasa melorot, kedua tas besarku yang sedari tadi kubawa hampir jatuh. Untung saja tak jatuh, kalau tidak pasti kenang-kenangan yang akan kuberikan kepada orang tua asuhku mungkin sudah pecah. Kuhampiri Addin, sambil menyapanya. Kulihat kecerahan yang mulai tampak dari wajahnya. Yah, lebih baik menunggu bersama seorang temanku daripada tidak ditemani siapapun.


Menunggu itu membosankan. Tepat sekali. Sudah berkali-kali kulihat jamku, mungkin sudah hampr 50-an kali.Ternyata waktu masih berlalu selama 3 menit. Masih sedikit yang datang. Bis yang ditunggu-tunggupun juga belum terlihat batang hidungnya. Beberapa menit kemudian beberapa temanku sudah mulai terlihat. Disertai barang-barang bawaannya, seperti orang pindahan. Perbincangan hangat tentang hal-hal yang akan kami alami mulai terasa. Ada yang takut mendapat rumah yang jelek, adapula yang bersyukur ada kegiatan LIVE IN karena dapat melalui 4 hari berturut-turut tanpa memikirkan pelajaran. Tanpa pusing-pusing memikirkan soal-soal Matematika, Kimia, Fisika, dan juga Ekonomi yang harus diisi. Bebas tanpa kekangan dan peraturan, pendapatnya.

Keasyikan itu terbuyarkan setelah konvoi bus datang. Setelah mengetahui bis 13 datang, kami langsung berlarian menuju ke bis. Melihat ukurannya, sepertinya bis itu sangat kecil, tak mungkin memuat 30 orang, apalagi 32 orang, belum terhitung Pak Ikhwan, barang-barang yang tak muat di bagasi, dan juga seorang kondektur dan seorang supir.

Aku menjadi orang ketiga yang sampai di bis, seorang temanku lainnya, yang sudah sampai di bus itu tentunya dan yang lebih parah lagi aku lupa siapa namanya, sudah berkali-kali meminta sang supir membuka bagasi, tetapi tak ada reaksi, antrian sudah mulai panjang. Kuberanikan diriku, kumantapkan suaraku, dan akhirnya kudesak supir itu agar membuka bagasi. Memang supir itu terbujuk membuka pintu, tetapi bukan oleh dirinya, ia mewakilkannya kepada kondektur setianya, tak apalah.

Kondektur itu telah memasukkan kunci ke lubang pintu bagasi. Dia memutarnya ke arah jarum jam. Sekali, kunci itu berputar, tetapi hanya beberapa derajat saja. Usaha kedua, kali ini kunci itu malah tak berputar.

“Coba lagi, Pak !” teriakku. Seolah memerintah. Aku takut sang kondektur itu malah marah. Namun ternyata dugaanku salah.

Kondektur mencoba lagi. Kali ini sepertinya terlihat dengan usaha dan kekuatan yang lebih besar. Sayangnya, juga tetap nihil. Bagasi itu kini dinyatakan tak dapat terbuka dan tak dapat diisi oleh koper-koper ini.

Panik. Itulah yang kurasakan. Aku berfikir, apa yang harus kulakukan ? Tiba-tiba, kuteringat kalau bis ini tak mungkin memuat 35 orang dengan keadaan duduk sekaligus setelah kuketahui bahwa bis ini hanya mampu menampung 27 orang.

Tanpa sadar kuberteriak, “Tempat duduknya!” Akupun langsung meninggalkan koperku begitu saja. Mulai berebutan masuk ke bis untuk mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman sampai ke tempat tujuan. Kuangkat kedua tasku. Kuraih pegangan pintu, kemudian naik ke bis dan langsung tanpa pikir panjang kutaruh tas ranselku di kursi belakang supir. Tas satunya lagi kumasukkan ke celah-celah kosong di samping tempat dudukku. Satu tugas telah selesai.

Setelah itu aku langsung turun dari bis dan mencari koperku. Sedikit jengkel dan mengomel-ngomel karena koperku dijatuhkan, kuraih koperku. Kutarik ke belakang bus.

“Pak, ada tempat lain yang bisa menampung koper ini ? Bagasi samping lainnya atau mungkin bagasi yang ada di belakang bus ?” kutanya kondektur yang tadi sudah berupaya untuk membantu.

“Ke bagasi belakang saja, Mbak. Ayo Mbak, ” jawabnya.

Selamat. Ku ikuti kondektur itu. Sesampainya di tempat yang dimaksud aku terperangah. Tak mungkin. Ternyata bagasi belakang hanya sebesar 2 x 0,5 m. Seluruh koper dan tas itu tak mungkin muat di dalam bagasi itu. Daripada koper kesayanganku ini rusak gara-gara terinjak ataupun terduduki, koper itu langsung saja kunaikkan ke bagasi. Dengan kebaikan dan ketulusan hatiku, kubantu teman-temanku yang lain untuk menaikkan koper maupun tas besarnya. Lima buah koper dan sebuah tas sudah berdesak-desakan di dalam bagasi, terlihat penuh dan tak mungkin dimuati sebuah koper. Terpaksa temanku yang tasnya belum kunaikan beringkut ke dalam bis dan segera menyimpan kopernya di tempat yang menurutnya aman. Kondektur itupun kemudian menutup bagasinya.


Upacara pemberangkatan sudah dimulai. Dipimpin langsung oleh Pak Hari, Kepala Sekolah kami yang baru, upacara pemberangkatan kali ini petugasnya berasal dari Paskibar kelas XI yang mengenakan seragam OSIS lengkap. Pembukaan awal sudah dilaksanakan, selanjutnya pembacaan tujuan dilaksanakannya LIVE IN, pidato kepsek yang terasa sangat singkat, penyematan tanda dimulainya LIVE IN, dan kemudian tak terasa upacara selesai. Riuh sekali, kami berduyun-duyun menuju ke bus. Journey is begin.

NEW FAMILY

Perjalanan menuju Kendal memang terasa melelahkan. Walaupun aku dan Tia, teman sebangkuku, masih bisa bergerak leluasa di dalam bis, teman-temannku lainnya mungkin harus mau dan terpaksa duduk bertiga atau mungkin duduk di atas koper. Bukannya kami egois, tetapi tempat duduk kami ini memang berada di belakang supir. Apalagi tubuhku kan juga gedhe, selain itu juga ada tas ranselnya Tia.

Sepanjang perjalanan, kami kelas Olimpiade disuguhkan pemandangan yang indah. Sesekali hujan mengguyur, meredam hawa panas yang ada di dalam bis. Namun pengapnya bis ini tak menyurutkan semangat kami. Dari awal perjalanan sampai tiba di Kecamatan Patean kami masih saja bercanda dan bernyanyi. Terutama ketika Kondektur di bis kami menyetel dangdutan dari radio. Tawa tak mungkin dapat lagi dibendung.

Berselang beberapa waktu, Yaris ikut mendendangkan lagu yang sedang diputar.Sambil layaknya berjoget, dia meminta saweran dari teman-teman yang lain. Cek, cek, cek, ternyata selera Yaris.......

Sesampainya kami di Kecamatan Patean, kami berduyun-duyun turun dari bis. Leganya diriku setelah terbebas dari belenggu di bis. Sambil menikmati udara yang bertiup semilir, kami berjalanan menuju halaman Kecamatan Patean. Lamanya upacara penyambutan membuat kami merasa capai. Jujur kami mengikuti upacara dengan setengah hati.

Kembali ke bis secepat-cepatnya setelah upacara, pikirku. Lomba mencapai bis dimulai. Sempat aku hampir masuk ke bis 15, tapi aku cepat menyadarinya. Aku balik kanan dan kembali menuju ke bisku yang sebenarnya, bis 13. Kini bis kami yang sudah sumpek bertambah sumpek setelah tambahan dari kelas XI campuran ikut ke bis kami karena tujuan mereka sama, ke Desa Sukomangkli. Kenapa tidak di bis X-7 saja ?

Dalam perjalanan menuju ke Desa Sukomangkli kami ditinggal oleh bis X-7 dan nyaris tersesat. Setelah diberi tahu arah yang benar, kami segera bergegas menuju ke balai Desa Sukomangkli. Kabarnya X-7 sudah sampai.

Jalan menuju ke desa tersebut tampaknya tidak bersahabat. Tikungan tajam yang menanjak dan berlubang sudah kerap kami lewati. Sampai ke Pabrik Karet, sang supir bingung harus membelok ke mana. Pak Ikhwan beraksi, menelpon ke Bu Emmy. Menurutnya kami harus berjalan terus, kemudian membelok ke kanan, pada gang ketiga dari awal kami harus belok ke kiri dan berjalan terus, kemudian berbelok ke kanan dan jalan terus sampai ke balai desa.

Di sana, kami sudah ditunggu oleh orang tua asuh kami. Mana ya orang tua asuhku ? Sepertinya yang berpakaian yang rapi-rapi deh. Kan orangtuaku jadi Sekdesnya. He...he...he...

Selama prosesi penyerahan ke orang tua asuh, aku dan teman serumahku nanti, Silmi sepertinya harus menunggu lama. Yah benar. Karena kami memang yang paling terakhir. Dan yang membuat lebih jengkel, kami berdua harus merapikan dan membersihkan ruangan bali desa terlebih dahulu sebelum menuju ke rumah.

Orangtua asuhku bernama Pak Umboro Hari Sadewa. Biasa dipanggil Pak Hari atau Pak Carik. Beliau mempunyai seorang istri yang bekerja sebagai guru di SD SUKOMANGKLI. Anak beliau masih kelas XI di SMK 5 Semarang.

Perjalanan ke rumah yang kami bayangkan dengan naik mobil atau motor tak terkabul. Kami harus membawa barang-barang bawaan kami sendiri menuju ke rumah karena bapak asuh kami yang sejatinya adalah seorang carik di desa tersebut telah meninggalkan kami jauh ke belakang. Jalanku sudah terasa terseok-seok, untungnya jarak rumah dengan balai desa tak terlalu jauh. Hanya sekitar 100 m saja.

Pertama melihat rumah yang akan kutinggali selama 4 hari 3 malam itu aku serasa bermimpi. Entah berapa kali aku sudah mengedip-ngedipkan mataku, tetapi tetap saja rumah itu yang terlihat. It’s my lucky!

Halaman depan rumahku itu tak sebesar yang kubayangkan seperti halaman-halaman rumah di pedesaan. Hanya sekitar 1 x 5 m. Dengan pagar halaman berwarna oranye mencolong, di atasnya terlihat 6 buah burung patung burung kuntul yang berwarna putih sedang bertengger. Di tengah-tengah pagar itu terlihat lubang yang berisi hiasan dari kawat berbentuk tiga buah bunga yang cukup cantik. Di ujung timur halaman, terdapat sebuah kolam berisi ikan koi yang cukup menarikku untuk menangkapnya. Aku serasa seperti pindah ke gedong.

Begitu sampai ke halaman itu, aku langsung dipersilahkan masuk. Pak Hari, begitu kusapa, langsung nyerocos saja menerangkan dimana kami harus tidur, mandi, peraturan yang harus kami ketahui dan segalanya yang tumpek blek yang tak dapat kuserapi sekaligus. Intinya aku harus tidur bertiga dengan seorang anaknya, tak ada batasan untuk makan yang sekenyang-kenyangnya, kegiatan orangtua asuh yang selalu sibuk dan pulang siang mungkin sore, dan kebiasaan yang sering dilakukan.

Setelah itu kami disuruh beres-beres menaruh barang bawaan kami. Begitu kubuka tirai yang menutupi kamar, dengan agak terkejut kumasuki kamar itu. Kamar itu memang jauh lebih sempit dibanding dengan kamarku di Semarang. Aku akan tidur di atas spring bed, asyiknya. Ternyata di dalam kamar itu juga ada sebuah televisi 14” layar cembung. Sedikit kaget sih.

Aku sudah selesai merapikan barang-barangku. Terdengar suara seseorang, ternyata ibu asuhku sudah datang. Baju LINMAS-nya mengingatkanku pada ibuku. Ternyata beliau bekerja di SD sebagai guru. Kami menyalaminya sambil memperkenalkan diri. Tak beberapa lama kemudian, anaknya datang. Nita, panggilan akrabnya. Dia masih kelas XI di SMK N 5 Kendal, masuk ke jurusan RPL, Rekayasa Perangkat Lunak. Seperti jurusan TKJ di SMK N 7 Semarang.

Hari pertamaku di Sukomangkli ini kulalui dengan bersenang-senang terlebih dahulu. Bersenang-senang dulu, bersusah-susah kemudian, dan bersenang-senang kembali.

Setelah sholat Dzuhur aku memutuskan untuk makan siang. Kali ini kami disuguhi dengan menu spesial, rebung pedas dan ayam goreng. Lumayan juga menunya. Setelah makan dengan lahapnya, aku kembali menuju ke kamar, menyibukkan diri dengan rubik adikku yang sengaja dipinjamkannya kepadaku. Silmi sendiri asyik mambaca novel yang dibawanya, sedang Mbak Nita masih saja sms-an dari tadi.

Di tengah keasyikanku bermain rubik, tiba-tiba ibu asuhku memanggilku. Sedikit kaget, ada gerangan apakah ini ? Ternyata di ruang tamu seorang guru yang sudah sangat kukenal, Pak Ikhwan sudah menungguku sambil berkacak pinggang.

“Wah enak ya!” begitu kalimat yang pertama diucapkan setelah melihatku.

“Enak apanya, Pak ?” jawabku sedikit bingung.

“Halah, rumah kok kayak gedong gini mau live in,” sahut Pak Ikhwan.

“Bagus ya, Shen,” Isti ikut-ikutan memojokkan, “kamu nggak tau apa rumahku, sudah kecil, kasur sempit seukuran anak-anak buat berdua sama Badra.”

“Lho, kan kemarin Pak Ikhwan bilang kalo dapet rumah yang bagus itu kan keberuntungannya. Jadi ya ndak bisa disalahin to, Pak. Kan pembagiannya juga sudah dari sananya,” jawabku terus terang.

Selesai kunjungan Pak Ikhwan, aku pun meminta izin orangtua asuhku untuk pergi bermain. Ingin melihat-lihat daerah ini lebih jauh dan lebih dalam. Gimana ya nasib teman-temanku yang lainnya. Apa sebaik dengan yang kurasakan ? Entah mengapa pikiran itu langsung kubuang jauh-jauh. Jangan membuat iri yang lainnya. Inget !!!

, aku keluar rumah tentu saja juga tak lupa meminta izin dahulu. Bersama Tia dan Siti aku pergi ke kebun karet dekat kuburan. Di sana aku bersama kedua teman-temanku ini saling berfoto-foto ria. Kemudian berputar-putar desa dan balik lagi ke rumah.

Setelah mandi aku memutuskan untuk tetap tinggal di rumah. Sambil menanti makan malam aku, Silmi, dan Mbak Nita menonton tv di kamar. Asyiknya. Kamarku di Semarang saja tak ada tv-nya.

Makan malam kali ini kami disuguhi dengan rebung pedas, ayam goreng, sayur daun tela, dan tempe gorang. Lumayan juga menunya. Setelah sholat Maghrib, sambil menunggu hujan reda, kami sekeluarga menonton televisi sambil makan tahu goreng dengan sambal terasi.

Sampai pukul 19.00 hujan belum saja reda, dengan nekat aku langsung meminjam payung dan memakai jaketku. Kuterobos jalan yang petang dan hujan itu. Sesampainya di baldes ternyata teman-temanku sudah ramai berdatangan. Waktu ikut bergabung aku masih sedikit canggung. Bagaimana tidak ? Orangtua asuhku kan seorang Carik, sedangkan teman-temanku yang lain ada yang seorang bakul jamu, petani, pembuat krupuk, peternak kambing ataupun sapi. Di hati ini sepertinya ada perasaan yang sedikit mengganjal. Biarkan pikiran itu berlalu. Dengan langkah yang kumantapkan, aku memasuki ruang baldes. Kini terasa sepertinya sudah mulai hangat. Sehangat rasa persahabatan kami.

Sharing malam itu lebih bertema tentang kegiatan pertama yang kami laksanakan, tentang keluarga orang tua yang akan mengasuh kami selama empat hari, dan kegiatan-kegiatan yang akan kami laksanakan keesokan harinya. Lumayan seru juga. Sambil menyeruput teh manis yang panas, juga menikmati lunpia dan pukis. Euummm, yummy.

Sekitar pukul 21.30 sharing yang kami laksanakan sudah selesai. Banyak yang ngantuk. Sebelumnya, kami tak lupa untuk berjanji untuk pergi ke Kopel pukul 05.00 besok pagi. Bersama dengan Luthfi, Tia, dan Siti kami pulang menuju rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, ternyata hampir semua orang sudah tertidur. Langsung saja aku membersihkan diri dahulu di kamar mandi dan kemudian menuju ke kamar untuk tidur. Semoga hari esok lebih seru.

NEW EXPERIENCES

Pagi itu aku bangun pukul 05.15, terlambat 15 menit dari waktu yang sudah direncanakan. Aku kali itu memutuskan untuk membatalkan pergi ke Kopel. Ku raih mukenaku, bersiap-siap untuk menunaikan ibadah sholat subuh, walau sepertinya sudah terlambat. Kuambil air wudhlu, kemudian menuju ke ruang sholat, memakai mukena dan sholat subuh kutunaikan.

Selesai menunaikan sholat subuh, kemudian aku berjalan-jalan berputar-putar. Sebenarnya aku juga tidak tahu mau pergi ke mana. Ternyata udaranya masih terasa segar.

Setelah berjalan-jalan sekitar 30 menit, kuputuskan untuk pulang setelah melihat ada bendera kuning yang dikibarkan. Sesampainya di rumah, aku membantu menyapu halaman. Kemudian makan pagi dengan nasi jagung dengan buntil, disertai krupuk Manohara. Enak banget, lho !

Setelah mandi, aku menonton tv di kamar. Lama menunggu orang suruhan Pak Hari datang, akhirnya kami membantu untuk membantu membuat perkedel kentang. Eh, ketika perkedelnya sudah matang semua, kemudian orang suruhan itu datang.

Pak Sugi, begitu sebutannya. Kuambil topi merah live in ku kemudian kami langsung diajak menuju ke sawah. Sawahnya berada sekitar 1 km. Namun pemandangan yang indah tak membuat aku merasa lelah. Sesampainya di sana, kami disuruh memilih memetik jagung atau menyiangi ketela rambat. Enaknya yang mana ya ? Dua-duanya saja ag.

Setelah berunding dengan Silmi akhirnya kami memutuskan untuk memilih kedua-duanya. Pekerjaan kami mulai sekitar pukul 11.00. Kegiatan yang kami lakukan ini ternyata sangat mudah. Hanya terkendala ulat bulu, daun jagung yang sangat gatal, dan rerumputan berduri yang sudah membuatku kesakitan karena menginjaknya dua kali. Maklum aku sengaja untuk bertelanjang kaki karena sandalku penuh dengan lumur dan tanah liat.

Di tengah-tengah masa penyiangan, aku telah menemukan ketela rambat beberapa kali, di antaranya juga ada yang masih kecil dan dimakan tikus jadi kutinggalkan saja. Kali itu aku dapat membawa pulang 5 buah ketela rambat.

Mengetahui ternyata ada sungai kecil di bawah sawah itu, kami memutuskan untuk bermain di sana sambil mencuci sandal dan ketela kami, tentunya setelah meminta izin kepada Pak Sugi.

Jalan menuju ke sungai itu lumayan sulit dan licin. Dengan sabar aku perlahan-lahan menuruni tanah yang curam. Sesampainya di sungai, aku mengukur kedalaman air sungai terlebih dahulu karena di antara kami berdua akulah yang mempunyai postur yang lebih tinggi dan pandai berenang.

Kedalaman air sungai itu hanya setinggi lututku. Arusnyapun juga tak terlalu deras. Setelah memastikan sungai itu lumayan aman untuk digunakan bermain, Silmi kusuruh untuk masuk ke sungai. Pertama-tama aku membersihkan sandalku terlebih dahulu, baru membersihkan ketela-ketela yang sudah kubagi rata dengan si Silmi. Di tengah proses pembersihan ketela, Silmi malah menghanyutkan salah satu ketela miliknya.

“Shena, Shena, tolong ketelanya njebur,”teriaknya agak kalap.

Aku masih bingung. Beberapa detik berlalu dan aku baru ngeh. Kutaruh ketelaku. “Lha kok bisa, eh telaku jagain ya. Jangan sampe hanyut juga lho,’ jawabku.

Aku pun mulai berlari. Terasa kakiku sakit tertusuk-tusuk batu yang tajam di dasar sungai itu. Bersusah payah aku mengejarnya. Sudah 10 meter, tetapi ketela itu masih jauh di sana. Sepertinya aku sudah mulai menyerah. Kayaknya nggak bakal kekejar deh, jauh banget. Cuma ketela doang kok, biarin aja hanyut. Lagian kalo mau nyari lagi paling ntar bakal dapet lebih dari satu.

“Shena, ayo kejar lagi. Bentar lagi nyampe, ayo, berjuang terus. Jangan sampai telanya hilang !” terdengar suara Silmi berkobar-kobar menyemangatiku.

“Ya, bentar lagi sampe kok!” jawabku. Tak enak perasaanku kalau mengecewakan Silmi. Kukerahkan tenagaku, kupusatkan ke arah kedua kakiku. Kupersiapkan mental untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Akhirnya kukeluarkan jurus terbaikku dan dalam waktu kurang dari 5 detik ketela itu sudah berada di tanganku.

“Yeee,,, ketelanya ! Awas ya kamu jangan hanyut lagi,” selorohku. Setelah mendapatkan ketela yang hanyut aku kembali ke tempat semula. Sebuah batu besar yang berada di tengah-tengah sungai. Sambil duduk di atas batu itu, aku melanjutkan untuk membersihkan ketal yang tadi belum selesai kubersihkan. Setalah cukup bersih untuk dibawa pulang, kuputuskan untuk naik ke sawah untuk pulang. Adzan Dzuhur sudah berkumandang.

Sesampainya di atas kami sudah dinanti oleh Pak Sugi. Dan yang paling menyebalkan, kakiku kembali tertusuk duri. Sebel. Kakiku sakit tertusuk-tusuk, karena duri-duri itu berukuran sangat kecil aku sulit untuk mengambilnya. Kakiku terlihat bersimbah darah dan bekas dari luka itu masih terlihat sampai narasi ini dibuat.

Pak Sugi dan Silmi menunggu agak lama karena duri itu tak mau keluar-keluar. Sampai-sampai Pak Sugi tertawa melihat tingkahku yang kesakitan. Rasa kesakitan itu kupendam dalam-dalam, kupakai sandalku dan mulai menyusuri jalan lagi untuk pulang ke rumah.

Jagung yang sudah diambilkan oleh Pak Sugi kuambil dan kupanggul. Kata Silmi sih lebih enak dipanggul jadi ikut-ikutan dong. Sedangkan telanya dibawa oleh Pak Sugi, padahal beliau sudah membawa rerumputan yang banyak sekali, sedikit kasihan juga sih.

Kali itu perjalanan pulang terlihat tak terlalu sulit karena aku sudah mulai mengenal medannya. Sesampainya di jalan kampung, kami bertemu dengan Pak Ikhwan. Nah momen itu (sewaktu aku sedang berjalan membawa jagung) diabadikan di kamera digitalnya. Di seberang jalan terlihat Bayu bersama 3 teman serumahnya. Bayu yang juga melihatku menyuruhku untuk menunggunya. Permintaan itu kupenuhi. Penasaran ingin melihat Bayu memandikan sapi. Sementara Pak Sugi diminta oleh Pak Ikhwan untuk meninggalkan kami.

Selama menunggu rombongan keluarga besar SMA N 3 yang akan meninjau, kami saling bercerita tentang kegiatan yang kami lakukan hari itu, tentu saja kami selingi dengan pembicaraan OSN, mengingat ada 4 orang anak dari kelas Olimpiade dan Mosi kimia, termasuk aku J.

Sudah 20 menit berlalu, sang empunya sapi mulai mengomel karena yang ditunggu-tunggu tidak juga datang. Kelihatannya ada sapi yang mencret. Segera saja Pak Ikhwan sibuk dengan hp-nya menghubungi Pak Soleh yang sedang menuju ke sini. Setelah didesak berkali-kali akhirnya rombongan itu sepakat untuk datang lebih awal. Dan 5 menit kemudian mereka sudah tiba ke tempat yang kami tentukan.

Rombongan itu terdiri dari 3 mobil. Banyak guru yang ikut melihat. Kami sempat berfoto-foto ria terlebih dahulu. Kemudian Pak Arif mereka Bayu dan teman-temannya yang sedang memandikan sapi. Lucunya sewaktu dimandukan, sapi itu mengeluarkan pup sebanyak dua kali dan berhasil mengenai dua orang pula. Kasihan ya.

Setelah dirasa cukup, rombongan itu pun langsung tancap gas menuju ke balai desa. Kami pun juga tak ingin untuk berlama-lama di tempat itu, matahari sudah mulai panas. Saat sapi itu dinaikan dan dituntun ke jalan, sapi itu malah lari dan sang penuntun sapi itu kesulitan untuk mengikuti sapi yang dibawanya. Bayu yang tak mendapat tugas untuk membawa sapi, membantuku untuk membawa jagung. Sesampainya di depan rumah Ghamdan, aku dan dia berfoto terlebih dahulu, baru kemudian melanjutkan perjalanan pulang. Samapi di depan rumahku, aku tak lupa mengucapkan terima kasih kepadanya. Lalu, dia melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah.

PMERH

Setelah membersihkan diri, kutunaikan ibadah sholat Dzuhur terlebih dahulu sebelum makan siang. Kali itu menunya mungkin sedikit nyleneh. Tak seperti soto yang ada di Semarang, kali itu aku makan dengan soto berisi bihun, kol, tauge, yang ditaburi daun seledri yang sudah dipotong kecil-kecil. Kemudian, soto itu dimakan dengan nasi hitam yang sebenarnya berwarna merah tua. Awalnya sedikit enggan untuk memakannya, tetapi setelah kucoba dan kurasakan ternyata lebih enak dan lebih gurih dan soto itu kuhabiskan dengan lahapnya.

Aku tak punya kegiatan yang berarti setelah makan siang. Silmi yang pergi untuk maen ke rumah temannya yang lain membuatku semakin boring. Kebingungan itu terpecahkan setelah aku punya ide untuk membuat bakwan jagung yang rencananya akan kusajikan ketika sharing. Setelah meminta izin, aku kemudian menyibukkan diri untuk memotong-motong butir-butir jagung menjadi lebih kecil, Mbak Nita membantu mengupas dan memotong wortel. Setelah semua bahannya siap, kami mulai mengolahnya.

Bwang putih yang sudah dihaluskan bersama rempah-rempah rahasia lainnya dicampr dengan air dan dimasukkan ke dalam wadah berisi tepung dan jagung. Kemudian sebuah telur kami masukkan, dan adonan itu diaduk dengan rata. Garam dimasukkan. Setelah adonan siap, kunyalakan kompor. Bakwan pun mulai digoreng.

Bakwan yang telah jadi itu berjumlah sekitar 30-an. Mengingat jagung yang digunakan adalah jagung hibrid, kuputuskan untuk membatalkan membawanya untuk acara sharing. Kuajak teman-temanku untuk ke rumah. Sayangnya, tak ada satupun yang mau untuk datang karena sedang asyiknya melihat sapi yang sedang kawin. Gerimis mulai terasa.Akhirnya tanpa membawa seorang temanpun aku kembali ke rumah. Sedikit kecewa sih.

Saat aku sedang sholat Ashar, teman-temanku ternyat menggeruduk rumahku. Jumlahnya mungkin sekitar 20 orang. Di luar sana mereka berteriak-teriak memanggil namaku. Sampai Pak Hari bangun. Cek... cek... cek...

Selesai sholat dan merapikan rukuhku, kuambil bakwan itu dan kubawa keluar. Ternyata hujanlah yang membawa mereka untuk ke rumahku. Cuma sekadar ngiup. Mengetahui ada makanan, mereka saling berebut dan dalam hitungan detik hanyak 5 buah bakwan yang tersisa. Tak tanggung-tanggung, mereka pun langsung meminta minum. Aku yang sedikit bingung, mulai kewalahan. Kubawa mereka langsung ke dapur melalui pintu samping rumah. Awalnya hanya Verdy, Yaris, dan Reza saja yang meminta minum, tetapi dalam hitungan detik seuma temanku itu malah berduyun-duyun ke dapur.

Hujan yang makin deras membuat mereka tetap tinggal di rumahku. Salah satu temanku, meminta izin untuk sholat dan kuizinkan. Kutunjukkan jalannya. Eh, akhirnya mereka semua yang belum sholat ikut sholat di rumahku sampai memenuhi ruang keluarga.

Hal yang paling lucu dan kuingat adalah pada saat Verdy, Reza, dan Yaris sholat. Mereka menggunakan ruang sholat hanya bertiga dan tak membolehkan seorangpun masuk. Lama menunggu mereka yang tak kunjung keluar akhirnya Mbak Nita yang penasaran masuk ke ruang itu. Eh ternyata mereka tidak sholat, tetapi malah bercanda. Akhirnya mereka dimarahi oleh ibu asuhku.

Mereka tak kapok-kapoknya. Malahan yang lebih parah dan menggelikan, Verdi malah menggunakan bawahan rukuh karena tak mendapat jatah sarung. Aku yang melihatnya tak dapat menyembunyikan tawaku. Setelah itu mereka malah berlomba sholat. Pemenangnya Yaris, dan yang kalah adalah Verdy.

Tak hanya numpang makan, minum, dan sholat, temanku pun juga ada yang menyempatkan diri untuk buang hajat. Camelia atau Londom sudah menuntaskan keinginannya, sayangnya Tia yang sudah bilang kepadaku tak jadi mewujudkan keinginannya karena takut ditinggal temanku yang lainnya. Terserah kamu aja deh, ntar kalau malah keluar di jalan bukan salahku lho! He...he...he...


Malamnya seperti malam sebelumnya, aku menjalani kegiatan rutin yang sama. Makan malam, sholat, mengikuti sharing, dan tidur dengan pulasnya. Saat mengikuti sharing, Luthfi sempat menceritakan kegiatan yang dia lakukan dan hal-hal yang ada di rumahnya. Aku menjadi iri. Karena besok adalah hari Senin di mana aku dan Silmi ditinggal oleh semua keluargaku, maka saat itu pula kuputuskan keesokan harinya aku akan ikut Luthfi, walaupun Bayu sudah membujukku untuk ikut bersamanya. Harapannya semoga besok akan berjalan dengan baik dan lancar.

IT’S FANTASTIC !

Keesokan harinya aku bangun kira-kira 15 menit lebih awal daripada hari sebelumnya. Rencanaku untuk ke Kopel sudah bulat. Setelah meminum teh panas, aku bersama Silmi beranjak meninggalkan rumah. Dalam perjalananku aku bertemu dengan Luthfi dan juga Sangaji. Kami kemudian menuju ke Kopel bersama-sama dengan disertai anak X-7 yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Sesampainya di Kopel, pemandangan sunrise sudah terlewatkan, walaupun begitu langit timur itu masih menunjukkan keindahannya. Keberadaan dari anak X Olim yang lainnya tak terlihat. Aku, Luthfi, dan Sangaji memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari teman-teman yang lainnya.

Tujuan kali itu adalah Kali Lumpang. Sebenarnya aku sedikit lupa di mana arah untuk menuju daerah itu. Patokannya SD, begitu kata Mbak Nita. Kami pun bergegas menuju ke SD, dalam perjalanannya kami saling bercanda tak jelas ujungnya. Sewaktu tiba di SD, suasana yang sepi membuat kami mengurungkan niat itu. Kami menunggu teman-teman kami yang lewat setelah Dhewa, teman satu rumah Luthfi yang lewat dan memberi tahu bahwa ada anak dari X Olim yang sedang menjelajahi hutan karet di daerah itu.

Lama menunggunya, setelah orang yang dimaksud lewat, ternyata hanya Gatya, Puput, dan Siti yang mereka maksudkan. Kami pun kembali ke arah sebelumnya, menuju rumah.

PMERH

Setelah membicarakan kegiatan yang akan kami laksanakan hari itu, kami makan pagi terlebih dahulu sebelum berganti pakaian dan menuju ke rumah Luthfi. Sesampainya di rumah Luthfi sekitar pukul 07.30 ternyata mereka sedang memberi makan kelinci di kandhang belakang. Ternyata mereka sudah ditinggal oleh Pak Dipo ke sawah karena pulang main kesiangan.

Sambil menunggu Luthfi dan Dhewa yang akan sarapan, aku bermain bersama balita 2,5 tahun dan seorang bayi berumur 10 bulan yang ada di rumah itu. Lucunya. Selesai makan, sambil membawa tas kecil berisi rantang dan juga kamera digital milik Ghamdan, kami memulai kegiatan hari itu. Manuju ke sawah.

Kami harus melewati areal hutan kebun terlebih dahulu sebelum sampai di sawah. Sekitar pukul 08.00 kami sampai di sawah itu. Di sana terlihat Pak Dipo sedang membajak sawah. Kedua sapi yang beliau tuntun terlihat menurut pada perintah sang majikan.

Kami memberanikan diri untuk mendekat, turun ke sawah. Dhewa terlihat agak jijik dan malas, sedikit berjingkat-jingkat. Dalam hati aku sedikit mengejeknya. Masak cowok takut kotor ? Aku aja nggak takut. Berkali-kali kudengar Dhewa bertanya apakah di situ ada lintahnya atau tidak. Kebangeten, batinku.

Luthfi yantg sedari tadi melihat Pak Dipo membajak mulai terlihat tertarik dan ingin membantu. Aku sebagai jurkam di situ sudah berkali-kali memotret dia saat membajak. Entah sudah berapa kali dia bolak-balik mengitari areal sawah yang tergolong kecil. Di tengah-tengah keasyikanmembajak sawah, kami didatangi oleh salah seorang teman dari kelas X-7 bersama teman satu rumahnya yang entah kelas XI berapa. Ganang dan Mas Bayu.

Ganang yang sedari tadi melihat juga mulai tertarik untuk mencoba. Mas Bayu hanya berkomentar ria saja sedari tadi. Dari cara mengendalikan sapi, mengapa memakai sapi yang betina saja, dan masih banyakl lagi yang dapat membuatku tertawa terpingkal-pingkal.

Tak lupa dengan acara berfoto ria, Ganang, Luthfi, Dhewa, dan Mas Bayu mulai bernarsis-narsis ria. Saat itu aku ingin mengambil foto yang sedekat-dekatnya dengan sapi. Namun tanpa kusadari, tiba-tiba sapi iku melonjak ke depan hampir menciumku. Aku langsung saja refleks mundur ke belakang hingga tanganku tergores bambu dan berdarah. Luthfi malah lebih parah. Kakinya terkena luku dan mengakibatkan kakinya sedikit membengkak.

Kegegeran itu membuat Pak Dipo datang mendekat ingin mengetahui penyebabnya. Ternyata sapi itu kaget, sayang tak diketahui dan tak dilakukan penyelidikan lebih lanjut tentang penyebab sapi itu menjadi kaget. Peristiwa yang hampir mangakibatkan aku tercium oleh sapi tak mengakibatkan semangat untuk bernarsis ria itu pudar. Kini mereka yang hendak berfoto malah mengajak Pak Dipo untuk ikut serta. Hingga akhirnya dihasilkan sebuah potret maha agung yang sangat indah.

Di sela-sela pemotretan itu, sang sapi jantan yang sedari tadi diletakkan di tempat yang agak jauh dan rindang itu tiba-tiba berteriak. “ Moooooooo.” Kami semua menjadi bingung. Mas Bayu muali berkelakar lagi.

“Wah sapinya cemburu nggak diajak foto.”

“Enggak, sapinya cemburu liatain kamu foto-fotoan sambil dekat-dekat ceweknya,” balas salah satu dari kami.

“Ternyata sapi bisa cemburu juga ya!” selorohku.

Orang tua asuh dari Ganangpun tiba-tiba datang memanggil Ganang dan Mas Bayu untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Syukurin nyaris dimarahin kan! Sambil membawa sabit dan sandalnya yang copot, Ganang bergegas menemui orang tua asuhnya. Sedangkan Mas Bayu masih berleha-leha, jalan santai.

Kepergian mereka berdua membuat areal sawah itu kembali sepi. Silmi yang sedari tadi diam mulai mencoba untuk membajak sawah. Sedangkan aku, Luthfi, dan Dhewa saling bergantian mencangkuli dinding-dinding sawah dan memfotonya. “Aaaaa, apa itu. binatang apa itu ?” teriak Dhewa tak jelas, seperti ketakutan.

“Mana nggak ada hewan apapun kok di sawah,” jawab Luthfi.

Aku yang sedang mencangkul hanya mendengarkan saja.

“Itu yang putih-putih kemampul!” jawab Dhewa masih ketakutan.

Perasaan yang ada tu kuning-kunging kemampul, kok sekarang malah jadinya putih-putih kemampul sih ? batinku.

“Alah biarin aja. Kan nggak nggigit kamu,” jawab Luthfi enteng.

“Eh, itu binatang apa sih ?” Dhewa mulai beralih bertanya kepadaku.

Aku yang sedari tadi berkonsentrasi dan memfokuskan diri mencangkuli tanah di dingging sawah mulai mengalihkan perhatian. “Yang mana to ? Nggak kelihatan,” jawabku tak kalah entengnya.

“Itu lho, yang itu. Cepetan deketin,” jawabnya sambil menunjuk-nunjuk benda yang dimaksud. Terdengar dia agak memaksa.

Kuturuti permintaannya. “Nggak tahu. Sepertinya Cuma buih, tapi kok empuk-empuk gini kayak di dalemnya ada udaranya,” jawabku,”Pik, sini, apaan coba ini,” pintaku kepada Luthfi. Kali ini dia beranjak dari tempatnya.

“Paling cuma buih doang, nggak pa-pa kok,” jawabnya sambil menekan-nekan benda itu menggunakan batang. Seperti tak puas, dia menekan-nekannya dengan tangannya sendiri.

“Nggak pa-pa. Ini aman kok,” katanya seolah tertuju kepada Dhewa sambil mengangkat benda itu dan menimang-nimang di tangannya.

Bosan mengurusi benda itu, Luthfi dan Dhewa malah mulai bermain lempar-lemparan lumpur. Dasar !!! Aku yang tak ingin pakaian ini kotor membiarkan mereka berdua sibuk sendiri. Aku menepi ke daerah yang lebih teduh sambil mengurusi tanganku yang tadi berdarah. Saat bermain lempar-lemparan, aku sempat melihat Dhewa memegang benda putih tadi yang sempat dilempar Luthfi. Dia yang kaget sudah memegang benda itu langsung melemparnya. Dia tiba-tiba mengambil batu yang lebih besar. Kupikir dia akan melempar si Luthfi dengan batu yang lumayang besar itu, eh ternyata dia malah menggunakan batu itu untuk menghancurkan benda putih itu. Aku mulai terkekeh-kekeh. Dhewa,.... Dhewa,....

Pak Dipo yang sedari tadi membajak menyuruh kami untuk bergegas pulang karena sudah siang. Kami juga menyetujuinya karena aku sendiri juga sudah sangat capai. Capai tertawa melihat lawakan mereka.

Perjalanan pulang itu aku hampir saja menghanyutkan sandalku ketika melewati kali kecil. Saat itu, si Luthfi sempat-sempatnya izin untuk buang air kecil. Aku yang tak ingin mengganggunya langsung meningalkannya. Kenapa sih nggak nunggu sampai di rumah ? pikirku.

Sesampainya menganar Luthfi dan Dhewa pulang ke rumah. Aku dan Silmi langsung pulang. Rumahku saat itu masih dalam keadaan tertutup rapat. Tak ada orang di rumah. Jadi, kami leluasa. Selesai membersihkan diri aku mencuci pakaianku yang kotor. Kemudian aku makan siang dan akhirnya pergi ke Pabrik Karet sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.

Sepulangnya dari Pabrik Karet, aku sekelas pergi ke Lapangan Bola, melihat anak kelas kami latihan perdana melawan X-7 sebelum bertanding di Ligasha. Sayangnya, pertandingan berjalan tak imbang. Kami, penonton yang semula sebagai pen-suport mulai bosan dan memutuskan untuk bermain teplok nyamuk. Aku kembali didaulat menjadi jurkamnya. Seru sih!!

Kami bubar sekitar pukul 16.30 dan aku langsung pulang menuju rumah tanpa mapir-mampir lagi. Ternyata sesampainya di rumah Silmi masih pergi main. Aku yang mulai bosan malah diajak Mbak Nita pergi membeli bakso di daerah Depok.

Ajakan itu tak kutolak. Dengan mengendarai motor, kami menuju ke daerah tersebut dan makan bakso sepuasnya di sana. Setelah menghabiskan Rp 16.000,- kami memesan sebiuah bakso balungan yang dibungkus yang rencananya akan kami berikan kepada Silmi.

Pertku terasa sangat kenyang. Sampai di rumah aku langsung mandi kemudian sholat. Akhirnya aku langsung pergi untuk sharing. Acara sharing kali itu terasa agak berbeda. Kali itu diadakan di rumah orang tua asuh dari Mahardika atau Slim. Dia yang sedang bermain kartu remi terlihat kaget setelah melihat kedatangan rombongan keas X Olim yang akan mengadakan sharing di rumahnya.

Acara sharing kali itu berteme tentang perjuangan hidup dari orangtua asuh Slim tak lupa makan-makan juga. Selesai sharing kami yang berniat pulang mulai takut. Apalagi stelah Gatya berteriak kalua ada penampakan. Ternyat yang dimaksud hanyalah anak kelas XI Olim yang sedang berjongkok di antara tumbuhan yang ada di pekarangan itu sambil menyorotkan senter ke mukanya. Kasian deh ketipu.

Sesampainya di rumah aku langsung tidur tanpa menunggu Silmi pulang. Terlelap begitu saja karena kecapaian.

GOOD BYE,

Hari terakhir aku berada di Sukomangkli berlalu biasa-biasa saja. Setelah membantu membersihkan rumah, mandi dan makan pagi bersama, kami sempat bercerita sebentar. Pukul tujuh sebelum aku meninggalkan rumah itu, kuserahkan kenang-kenangan kepada Pak Hari. Kemudian kami berangkat ke baldes. Ternyata di sana belum ada seorangpun yang datang. Dulu dijemput terakhir, sekarang datang paling awal.

Setelah upacara pelepasan di baldes dan penyerahan kenang-kenangan, kami langsung bersalam-salaman dengan para warga sukomangkli. Alu berhambur menuju ke bus. Kali itu bus terasa lebih sesak daripada waktu pemberangkatan. Oleh-oleh dari Sukomangkli dan juga tambahan peserta membuat aku pusing setengah mati. Dan yang lebih parah, Pak Ikhwan membatalkan acara perpisahan di Kecamatan Patean, sehingga kami pun harus berdesak-desakan pulang ke Semarang.

Perjalanan itu untungnya dapat ditempuh dalam waktu yang relatif singkat. Dua setengah jam. Sekitar pukul 10.30 kami sampai di sekolah dan yang dapat kuingat aku hampir muntah dalam perjalanan pulang ini.